Lagi, Orang Dekat Khadafy Membelot

Kompas.com - 14/06/2011, 09:52 WIB
EditorKistyarini

LONDON, KOMPAS.com — Pemimpin Libya Moammar Khadafy kehilangan seorang lagi orang dekatnya. Kali ini yang membelot adalah Sassi Garada, ungkap dua pengamat Libya di London, Inggris, Senin (13/6/2011).

Garada termasuk orang pertama yang bergabung ketika Khadafy merebut kekuasaan di Libya lebih dari 40 tahun lalu. Garada meninggalkan Libya melalui Tunisa, menurut pengamat Libya Noman Benotman yang melakukan kontak dengan teman-teman dan keluarga Garada.

Keterangan Benotman, dibenarkan oleh Guma el-Gamaty, seorang pengorganisir dewan interim Libya di Inggris.

Laporan awal menyebut Garada kabur ke Inggris, tempat sejumlah kerabatnya tinggal. Namun menurut Benotman, Garada kini berada di Swiss.

Para pejabat Inggris, yang menolak identitasnya disebut, pihaknya tidak bisa mengonfirmasi informasi tersebut. Sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Swiss Carole Waeti mengatakan kepada AP, pemerintahnya "tidak mengetahui kemungkinan keberadaan Garada di Swiss".

Misi PBB untuk Libya di Geneva, yang berpihak pada oposisi, menyatakan belum mengetahui pembelotan Garada, tetapi akan menyelidiki informasi itu. Pada Februari lalu, para diplomat dalam misi itu secara terbuka menolak Khadafy hingga menambah jumlah pejabat yang memberontak terhadap rezim itu.

Dikenal sebagai pendukung setia Khadafy, Garada disebut-sebut sering menolak kenaikan pangkat militer agar tidak menjadi pusat perhatian, jelas Benotman yang bekerja sebagai analis Quillam Foundation.

Garada berasal dari suku minoritas Berber. Sukui ini sering berperang melawan etnis mayoritas Arab agar bahasa dan kebiasaan mereka dilindungi. Kebanyakan suku Berber menguasai wilayah pegunungan barat Libya. Di kawasan itulah Garada bertugas meredakan ketegangan, papar el-Gamaty.

Belum jelas alasan dan kapan Garada meninggalkan Khadafy. Namun, pembelotannya menambah panjang daftar pejabat yang bergabung dengan oposisi. Peluang Khadafy mempertahankan kekuasaan pun makin kecil.

Bulan lalu beberapa pejabat tinggi memutuskan membelot. Di antaranya Menteri Perminyakan Shukri Ghanem, Menteri Luar Negeri Moussa Koussa, Menteri Dalam Negeri Abdel-Fatah Younes, Menteri Kehakiman Mustafa Abdul-Jalil, dan mantan Presiden Majelis Umum PBB Ali Abdelssalam Treki.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.