Para Tentara Bertutur soal Tragedi

Kompas.com - 12/06/2011, 04:50 WIB
Editor

GUVECCI, Sabtu - Tentara Suriah yang melakukan desersi, Sabtu (11/6), dari kota Guvecci, Turki, bertutur soal kekejaman yang dilakukan pemerintahnya. Dikatakan, Pemerintah Suriah telah melakukan serangan keji terhadap demonstran anti-pemerintah dan tentara desertir.

Tentara diancam akan menghadapi eksekusi jika menolak perintah untuk menembaki para demonstran. Para tentara itu, terutama dari kubu non-Alawite, menolak perintah dari rezim Presiden Bashar al-Assad dari kubu Alawite (minoritas). Warga Suriah mayoritas beraliran Sunni.

Empat transkrip hasil wawancara antara kantor berita Agence France Presse (AFP) dan para tentara yang desersi menuturkan kekejaman rezim di seantero negeri. Suriah juga sedang didera aksi demonstrasi antirezim Bashar yang sudah berkuasa selama 40 tahun.

Pemerintah Suriah sendiri, lewat kantor berita SANA, mengatakan, serangan keji dilakukan kelompok anggota bersenjata. Pemerintah membantah keras bahwa serangan pada warga dilakukan aparat. Pemerintah malah menegaskan bahwa aparat pemerintah telah dimintai pertolongan oleh para warga yang diancam kelompok bersenjata itu.

Namun, cerita dari empat tentara desertir menyajikan kisah berbeda. Dikatakan, aparat pemerintah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap demonstran anti-pemerintah.

Tahal al-Lush, seorang desertir, mengatakan, dirinya telah menyaksikan sendiri ”genosida” di Ar-Rastan, sebuah kota di Suriah berpenduduk 50.000 jiwa dan terletak di Provinsi Homs. Peristiwa inilah yang mendorong Tahal melakukan desersi.

”Kami diberi tahu bahwa warga di kota itu telah dipersenjatai. Setelah kami tiba di sana, yang kami lihat adalah warga sipil biasa. Kami kemudian diperintahkan untuk menembak warga itu,” kata Tahal yang memperlihatkan dokumen-dokumen pertanda dia adalah seorang tentara sebelum melarikan diri ke Turki.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Ketika kami memasuki rumah-rumah, kami menembaki siapa saja yang ada di dalamnya, juga menemukan warga muda, tua ... serta para perempuan yang diperkosa di depan para suami,” kata Tahal yang mengatakan, sekitar 700 orang telah mati akibat tragedi itu.

Angka kematian ini sulit dikonfirmasikan. Para wartawan tidak bebas bergerak di Suriah.

Mohammed Mirwan Khalaf juga mengaku trauma dengan kisah horor terhadap warga sipil. Dia saat itu bertugas di sebuah unit militer di Idlib, Suriah, terletak di dekat perbatasan dengan Turki.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.