Al Qaida Merebut Kota Zinzjibar, Yaman

Kompas.com - 29/05/2011, 23:32 WIB
EditorBenny N Joewono

ADEN, KOMPAS.com - Lebih dari 200 orang bersenjata yang diduga anggota Al Qaida merebut kota Zinzjibar, Yaman selatan setelah dua hari pertempuran seru dengan pasukan keamanan yang menewaskan 16 orang, demikian dikata seorang pejabat, Minggu (29/5/2011).

Oposisi Yaman menduduh Presiden Ali Abdullah Saleh telah membiarkan Zinzjibar, ibu kota provinsi Abyan jatuh ke tangan pasukan bersenjata yang diduga bersekutu dengan kelompaok Al Qaida, dalam usaha mengendorkan dukungan internasional terhadap oposisi.

"Para gerilyawan Al Qaida berhasil menguasai kota Zinzjibar... dan mengambil alih seluruh fasilitas pemerintah, kecuali markas besar brigade mekanik ke-25, yang dikepung gerilyawan," kata pejabat keamanan.

Puluhan keluarga lari ke arah Aden, kota utama di selatan, di antara mereka adalah Nazir Ahmed Said, yang mengemukakan kepada AFP ia lari karena kota itu telah dikuasai pasukan bersenjata yang mengaku dari kelompoki Al Qaida

"Sabtu pagi, pria-pria bersenjata itu menyuruh penduduk agar ke luar rumah melalui pengeras suara. Mereka juga memaksa warga membuka toko-toko mereka. Namun, banyak yang tidak menghuraukan imbauan mereka karena ketakutan," tambahnya.

Pejabat keamanan itu memperkirakan lebih dari 200 gerilyawan menyerang kota itu. "Sangat disesalkan pemerintah melakukan pembiaran. Para pemimpin di provinsi Abyan justru melarikan diri dari wilayah itu, sebelum pertempuran berkobar," katanya.

Ia termasuk di antara para pejabat keamanan terakhir yang meninggalkan kota itu. Lima tentara dan satu warga sipil tewas Jumat, kata dua pejabat keamanan lainnya sementara penduduk Zinzjibar mengatakan mereka menemukan 10 mayat tentara yang menambah jumlah korban tewas menjadi paling tidak 16 orang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam satu pernyataan, koalisi oposisi parlemen menuduh Saleh telah menyerahkan Zinzjibar kepada kelompok-kelompok bersenjata yang ia bentuk dan persenjatai untuk membuat takut pihak oposisi dengan menggunakan tangan Al Qaida.

Saleh sejak Januari menghadapi protes-protes yang menuntut dia mundur setelah 33 tahun berkuasa. Saleh dalam hari-hari belakangan ini memperingatkan bahwa Al Qaida akan mengambil keuntungan dari jatuhnya pemerintahnya. "Jatuhnya rezim itu berarti ambruknya persatuan dan republik ini," katanya.

"Jika rezim ini jatuh, Al Qaida akan berkembang di provinsi-provinsi Hadramaut, Shabwa dan Abyan, dan situasi akan memburuk," katanya yang ditujukan pada Amerika Serikat dan Uni Eropa, yang selama ini dianggap sebagai "sahabat Saleh." Saleh adalah sekutu utama AS dalam memerangi cabang Al Qaida di Yaman.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.