Presiden Tolak Letakkan Jabatan

Kompas.com - 26/05/2011, 09:53 WIB
EditorKistyarini

SANA'A, KOMPAS.com — Beberapa ledakan mengguncang Sana'a, Yaman, Kamis (26/5/2011) pagi, menyusul penolakan Presiden Ali Abdullah Saleh untuk meletakkan jabatan sehari sebelumnya. Tidak ada laporan tentang korban jiwa dalam peristiwa itu.

Pernyataan Saleh itu dibacakan oleh juru bicaranya, Ahmed al-Soufi, dalam pertemuan dengan suku-suku pendukungnya. Saleh menolak mundur secara sukarela dan mengecam upaya negosiasi pengunduran dirinya yang didukung Amerika Serikat.

"Saya tidak akan menyerahkan kekuasaan dan tidak akan meninggalkan Yaman. Saya tidak menerima perintah dari luar (negara lain)," tegasnya dalam pernyataan itu.

Saleh berdalih tidak ingin menjadikan Yaman sebagai "negara gagal" meskipun negara itu kini terancam perang saudara, mengingat baku tembak antara suku penentang Saleh melawan tentara dan kelompok pendukungnya terus terjadi di beberapa kawasan di Sana'a.

Sejak kegagalan mediasi Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Coordination Council) pada Minggu (22/5/2011), setidaknya 69 orang tewas dalam perang kota di Sana'a.

Untuk memperkuat posisi tawarnya, Saleh memperingatkan, penggantinya bakal menjadikan Yaman sebagai tempat persembunyian Al Qaeda.

Peringatan presiden yang sudah berkuasa selama 32 tahun itu menunjuk langsung pada ketakutan AS bahwa kekacauan di Yaman akan dimanfaatkan oleh kelompok teroris. Seorang anggota Al Qaeda cabang Yaman terkait dalam upaya pengeboman Natal 2009 atas sebuah penerbangan di Detroit dan temuan bahan peledak di Dubai serta Inggris tahun lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Yaman tidak akan menjadi negara gagal. Yaman tidak akan berubah menjadi penampungan Al Qaeda," kata Saleh yang berjanji akan berusaha mencegah negaranya "terseret dalam perang sipil".

Sementara itu, pertempuran antara warga sipil dan tentara pendukung Saleh melawan kelompok suku penentangnya terus terjadi di Sana'a. Orang-orang sipil bersenjata berkeliaran di seluruh kota dan suara tembakan terus terdengar.

Mobil-mobil memenuhi jalan-jalan menuju luar kota Sana'a untuk mengungsi. Namun, akses ke ibu kota itu dijaga orang-orang bersenjata dengan tujuan mencegah kelompok oposisi memasukkan tenaga tambahan.

"Sudah tidak mungkin lagi tinggal di Sana'a. Tidak aman. Saya mengkhawatirkan keselamatan saya dan akan pindah pulang ke desa saya di Ibb," kata Murad Abdullah, warga Sana'a.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.