Nilai Minyak dalam Revolusi Arab

Kompas.com - 24/05/2011, 07:16 WIB
EditorEgidius Patnistik

SEIRING berkobarnya revolusi Arab saat ini, sikap Barat dalam mendukung revolusi itu kerap ditengarai bertujuan menguasai minyak. Tuduhan itu khususnya dilayangkan terhadap aksi militer NATO di Libya saat ini. Tuduhan serupa pernah dialamatkan kepada AS dan Inggris ketika menginvasi Irak tahun 2003.

Tuduhan tersebut sesungguhnya masih bisa dipertanyakan kebenarannya meskipun tidak sepenuhnya salah.

Sebagian besar ekspor minyak dunia Arab memang ke Barat, tetapi tetap dalam konteks transaksi dagang normal secara saling menguntungkan. Contoh kasus, minyak Libya. Sebanyak 83 persen ekspor minyak Libya pada era Moammar Khadafy diekspor ke dunia Barat, dengan perincian 77 persen ekspor ke negara Eropa dan 6 persen ke AS. Sisanya dikirim ke China, Brasil, dan negara lain.

Volume ekspor minyak Libya ke dunia Barat pasca-tumbangnya Khadafy dipastikan tidak akan berubah. Artinya, Barat sudah menguasai pasar minyak Libya, baik pada era Khadafy maupun jika Khadafy tumbang.

Jika logikanya demikian, buat apa Barat—dalam hal ini NATO—bersusah payah dengan biaya besar menggebuk mesin militer Khadafy hanya untuk minyak. Toh, Barat sudah menguasai pasar minyak Libya pada era Khadafy selama ini.

Bahkan, Khadafy menawarkan untuk melakukan transaksi kembali penjualan minyak yang lebih menguntungkan Barat asalkan dia tetap diberi kesempatan berkuasa di Libya. Namun, Barat menolak tawaran Khadafy, dan sebaliknya mendukung kubu oposisi (Dewan Nasional Transisi/TNC) yang berbasis di Benghazi.

Contoh kasus lain adalah minyak Irak. Ketika Pemerintah Irak membuka 11 tender proyek investasi di sektor minyak pada awal tahun 2009, sebagian besar perusahaan yang memenangi tender justru bukan dari Barat, melainkan dari China, Turki, Rusia, Jepang, Korea, dan Malaysia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemerintah Irak pun mendapatkan keuntungan lebih besar dalam transaksi tersebut dibandingkan keuntungan yang diraih Pemerintah Irak pada era Saddam Hussein.

Selain itu, transaksi Pemerintah Irak dan perusahaan-perusahaan minyak itu dilakukan secara terbuka dan transparan, dengan disiarkan langsung oleh media elektronik. Berbeda dengan transaksi investasi minyak pada era Saddam Hussein yang selalu dilakukan secara tertutup karena dianggap bagian dari keamanan nasional.

Jika aksi AS dan Inggris menggulingkan Saddam Hussein hanya untuk tujuan menguasai minyak sepenuhnya, maka tujuan itu gagal dicapai.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.