Posisi Khadafy Makin Sulit

Kompas.com - 19/05/2011, 07:13 WIB
EditorEgidius Patnistik

TRIPOLI, KOMPAS.com — Pada saat krisis Libya memasuki bulan keempat, posisi Moammar Khadafy semakin sulit. Selain tekanan demi tekanan dari kekuatan militer dan komunitas internasional meningkat, Khadafy juga terus ditinggal pergi oleh sejumlah tokoh kunci dalam kabinetnya.

Salah satu pejabat tinggi sekaligus tokoh kunci urusan minyak Libya, Shukri Ghanem, membelot, Rabu (18/5/2011). Pembelotan terjadi pada saat aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai memperluas operasi zona larangan terbang di Libya. Tekanan terhadap rezim Khadafy tidak berhenti sampai di situ. Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag juga hendak menangkap Khadafy yang didakwa telah melakukan kejahatan kemanusiaan. Ia hendak ditangkap bersama putranya, Seif al-Islam, dan Kepala Intelijen Abdullah Senusi.

Kanada, salah satu negara yang ikut operasi NATO, telah mengusir lima diplomat dari Kedutaan Libya di Ottawa, Selasa. Para diplomat diusir karena ”melakukan kegiatan yang tidak layak”. ”Semua kegiatan yang dilakukan kelima diplomat Libya dinilai tidak layak dan tidak sejalan dengan fungsi diplomatik normal,” kata pihak otoritas terkait di Ottawa.

Pukulan serius

Pembelotan Ghanem menjadi pukulan serius bagi Khadafy. Posisi Ghanem di dalam rezim Khadafy sangat strategis, yakni Menteri Minyak dan Kepala Perusahaan Korporasi Minyak Nasional Libya (National Oil Co).

Reuters melaporkan, Rabu, Ghanem membelot di tengah kian gencarnya serangan NATO terhadap rezim dan loyalis Khadafy. Ia sudah menyeberang ke Tunis, ibu kota Tunisia. Menurut petugas keamanan Tunisia, Ghanem membelot ke negara itu melalui jalan darat pada Senin lalu.

Hal senada disampaikan oposisi Libya. Mereka mengaku telah mendapat informasi bahwa menteri berusia 68 tahun itu telah membelot dari Khadafy. Seorang pejabat Libya di Tripoli membantah laporan itu. Silang opini serupa pernah terjadi sebelumnya kala oposisi dan media Arab menyebutkan Ghanem sudah mundur. Belakangan, Ghanem mengatakan dia berada di kantornya dan bekerja seperti biasa.

Reputasi Ghanem sebagai teknokrat sudah diakui dunia karena usahanya melakukan liberalisasi ekonomi dan sektor energi Libya. Jika Ghanem benar membelot, upaya Khadafy untuk terus mempertahankan kekuasaannya kian sulit. Posisinya pun semakin terjepit.

Jauh sebelumnya, banyak diplomat senior, beberapa menteri, dan pembantu dekatnya membelot dari Khadafy. Bahkan, ada yang lari sampai ke luar negeri, seperti dilakukan mantan Menlu Libya Moussa Koussa. Ada juga pejabat yang membelot dan bergabung dengan oposisi di Libya timur dan menjadi tokoh sentral Dewan Transisi Nasional (TNC).

Kekuatan berkurang

Menteri Keuangan dan Minyak TNC Ali Tarhouni, dalam kunjungan ke Doha, menuturkan, dia mengerti Ghanem meninggalkan posnya. Tarhouni berharap dirinya bisa mewakili Libya dalam pertemuan OPEC, Juni 2011. Libya telah kehilangan dua pertiga dari produksi minyak sejak krisis pecah, 15 Februari.

Koresponden AP melaporkan, dukungan terhadap Khadafy di Tripoli tampaknya mulai berkurang. Demonstrasi prorezim sudah jarang digelar lagi. Pasukan oposisi melaporkan, mereka kini mendapat sejumlah keuntungan dalam beberapa hari terakhir, yang juga dibantu oleh operasi aliansi NATO.

Di Misrata, medan pertempuran utama di Libya barat, oposisi mengklaim mereka telah berhasil penuh memukul mundur pasukan loyalis. Namun, loyalis juga telah menggempur permukiman penduduk di wilayah pegunungan Nafusa, Libya barat. Loyalis memakai rudal-rudal Grad, seperti dilaporkan BelJassem, warga kampung di dekat Yafrin, yang ikut dalam pertempuran melawan loyalis Khadafy.

Pengeboman oleh NATO sudah menghancurkan banyak pesawat perang Libya. Serangan itu banyak mengurangi kemampuan militer Khadafy. Angkatan udara Libya telah hancur dan 80 persen pesawatnya lumpuh. ”Khadafy hanya mengoperasikan helikopter kuno,” kata Menteri Pertahanan Perancis Gerard Longuet.

Militer Libya, kata Longuet, telah kehilangan besar, di mana sepertiga peralatan beratnya hancur dan sekitar separuh dari persediaan amunisinya habis. Serangan yang terfokus pada basis-basis militer Libya dilakukan sejak 19 Maret.

Televisi negara Libya mengatakan, pasukan negara telah menembak kapal perang NATO di perairan Misrata. NATO membantah laporan itu dan mengatakan itu ”benar-benar bohong”.

PBB mengatakan, krisis Libya telah menyebabkan 2,1 juta orang menderita. Panos Moumtzis, Koordinator Urusan Kemanusiaan PBB untuk Libya, mengatakan, 1,6 juta orang kesulitan pangan, akses kesehatan, dan kebutuhan pokok lainnya. Ratusan ribu orang mengungsi. (AP/AFP/REUTERS/CAL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.