14.000 Warga Libya Telah Lari ke Malta

Kompas.com - 18/05/2011, 02:08 WIB
EditorBenny N Joewono

JENEWA, KOMPAS.com - Sebanyak 14.000 orang telah melarikan diri ke Italia dan Malta dengan kapal dari Libya sejak awal konflik dan ribuan orang lagi telah merencanakan untuk melakukan hal yang sama, menurut badan pengungsi PBB, Selasa (17/5/2011).

"Hingga kini sekitar 14.000 orang telah tiba dengan kapal di Italia dan Malta dari Libya. Dari jumlah itu, 1.669 orang tiba pada Jumat dan Sabtu," kata Melissa Fleming, juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR).

"Berdasarkan pada pembicaraan dengan orang-orang yang telah tiba di Italia, kami yakin bahwa ribuan orang lagi akan berupaya untuk melakukan perjalanan ini melalui laut," kata Fleming.

Ribuan orang yang pada awalnya melarikan diri ke Tunisia atau Mesir bahkan kembali ke Libya dengan rencana untuk naik kapal tujuan Eropa.

"Di antara mereka adalah pengungsi, termasuk anggota masyarakat Somalia, Ethiopia dan Eritrea di kamp-kamp di Shousha dekat perbatasan Tunisia dengan Libya," ujar Fleming.

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), para pengungsi itu telah siap untuk menantang bahaya dan kembali ke Libya dengan harapan mendapatkan perahu tujuan Eropa, sebagian karena perjanjian Tunisia-Uni Eropa belum lama ini yang mencegah mereka pergi dari pantai Tunisia.

"Satu bagian perjanjian itu mengatakan bahwa Eropa akan berinvestasi secara ekonomi dan bagian lainnya menyatakan bahwa Tunisia akan membantu menghentikan kapal berangkat," kata Jemini Pandya, juru bicara IOM.

Selain itu, penyelundup Tunisia menolak untuk membawa warga negara lain selain Tunisia. "Sekitar 1.200 orang yang diketahui telah mengupayakan penyeberangan (ke Eropa) sejak 25 Maret tak diketahui nasibnya," kata UNHCR.

Koordinator kemanusiaan PBB untuk Libya, Panos Moumtzis mengatakan, PBB Rabu (18/5/2011) akan merevisi permintaan dana bantuannya untuk menutup kebutuhan negara itu dari Juni hingga Agustus.

Permintaan 310 juta dolar (219 juta euro) sekarang ini menutup kebutuhan hingga akhir Mei. Para donor sejauh ini telah memberikan 46 persen dari jumlah yang diminta.

"Lebih lama lagi konflik itu, maka lebih signifikan lagi pengaruhnya pada warga sipil," kata Moumtzis, yang baru kembali dari misi ke Libya.

Ia juga telah minta "waktu gencatan senjata" dalam konflik Libya. Hal ini penting dilakukan untuk mengevaluasi kebutuhan bantuan bagi penduduk sipil korban konflik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.