Pemerintah Ungsikan Warga Dua Kota - Kompas.com

Pemerintah Ungsikan Warga Dua Kota

Kompas.com - 16/05/2011, 16:35 WIB

KOMPAS.com — Kebijakan untuk perluasan zona bahaya dan penundaan perbaikan reaktor Fukushima berbuntut panjang. Lantaran kedua hal itu, pemerintah mengungsikan penduduk di dua kota, yaitu Kawamata dan Iitate. Menurut warta Xinhua, AP, dan AFP pada Senin (16/5/2011), penduduk kedua kota itu meninggalkan kediaman mereka menuju pusat-pusat evakuasi di kota-kota terdekat.

Gelombang pertama penduduk yang dievakuasi sebagian besar terdiri dari anak-anak, perempuan hamil, dan warga lain yang dianggap rentan terhadap bahaya radiasi. "Saya tahu kalian semua khawatir, tapi kita akan atasi masalah ini bersama," kata Wali Kota Kawamata Michio Furukawa kepada warganya.

Lebih dari 80.000 orang hidup dalam jarak 20 kilometer dari reaktor sudah terlebih dulu dievakuasi.

Sementara imbauan untuk tetap tinggal di rumah diberlakukan untuk mereka yang tinggal antara jarak 20-30 kilometer dari reaktor. Perluasan zona bahaya ditetapkan pada bulan lalu karena level radiasi nuklir dikhawatirkan terus meningkat.

Masalah

Sementara itu, upaya untuk mencegah kehancuran reaktor Fukushima terus menghadapi masalah. Pengelola reaktor, Tokyo Electric Power Company (Tepco), berupaya untuk mendinginkan reaktor satu dengan mengisi ruang penampungan dengan air.

Namun, Tepco mengatakan, mencairnya batang-batang bahan bakar menciptakan lubang di ruang penampungan. Akibatnya, 3.000 ton air yang terkontaminasi bocor ke ruang bawah tanah reaktor. Tepco menegaskan akan menjalankan rencana baru untuk menstabilkan reaktor pada Selasa (17/5/2011).

Pemerintah dan Tepco memperkirakan upaya untuk mencapai kestabilan reaktor bisa dicapai pada Januari tahun depan. Pekan lalu pemerintah sepakat untuk memberikan paket kompensasi besar bagi warga yang terkena dampak bencana.

Dalam perkembangan lain, pengelola reaktor nuklir Hamaoka di dekat Tokyo memutuskan untuk menutup reaktor yang sudah tua tersebut.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorJosephus Primus
    Close Ads X