Ancaman Menakutkan Pasca-tewasnya Osama

Kompas.com - 11/05/2011, 05:03 WIB
Editor

Angelina Marty (35), salah satu penumpang pesawat Boeing 737 American Airlines nomor penerbangan 1561, terhenyak di kursinya. Seorang pria, yang semula duduk tenang di kursi di dekatnya, tiba-tiba berjalan cepat ke arah depan pesawat, lalu menjerit-jerit sambil menggedor pintu kokpit.

”Saya hanya bisa berpikir: apa yang dia lakukan? Apakah dia membawa bom? Apakah dia bersenjata?” tutur Marty.

Penumpang lain, Andrew Wai (27), mengaku langsung syok saat melihat tingkah pria itu. Wai mengira, akhir hidupnya sudah tiba. ”Ini kah saatnya? Apakah kami akan jatuh?” kenang Wai, Senin (9/5).

Marty dan Wai adalah dua dari 162 penumpang pesawat, yang membawa mereka dari Chicago ke San Francisco, AS, Minggu (9/5) petang. Pesawat sudah mulai mengurangi ketinggian, bersiap mendarat di San Francisco, saat pria tersebut mulai berulah.

Pada awalnya, pramugari mengira pria itu sedang mencari toilet. Namun, saat ditunjukkan pintu toilet, ia justru berusaha mendobrak pintu kokpit.

Seorang pramugara dengan sigap langsung menjatuhkan pria itu. Awak pesawat lain dan beberapa penumpang, termasuk seorang pilot, pensiunan agen Secret Service, dan pensiunan polisi San Mateo, beramai-ramai meringkus pria tersebut, kemudian mengikat tangannya dengan borgol plastik.

Belakangan diketahui, pria itu bernama Rageh Almurisi (28), warga negara Yaman yang memegang kartu tanda penduduk daerah Vallejo, California, AS.

Almurisi langsung ditahan pihak berwajib setelah pesawat mendarat dengan selamat di Bandara San Francisco, Minggu pukul 21.10. Saat ini pria yang belum bisa berbahasa Inggris itu menghadapi kemungkinan tuduhan mengganggu awak pesawat, sebuah kejahatan federal. Ia diinterogasi oleh Kepolisian San Mateo, Kepolisian San Francisco, dan Biro Investigasi Federal AS (FBI).

Juru bicara FBI, Julianne Sohn, mengatakan, insiden itu masih diselidiki, dan pihaknya belum bisa menyimpulkan apakah ini berkait dengan aksi terorisme.

Saudara sepupu Almurisi, Rageh Almoraissi (29), membantah kemungkinan Almurisi terlibat terorisme. Menurut dia, Almurisi datang ke California sekitar 1,5 tahun lalu untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Belakangan ia pindah ke New York karena tak mendapat pekerjaan di Vallejo.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.