14 Diplomat Libya Diminta Segera Pergi

Kompas.com - 07/05/2011, 04:37 WIB
Editor

Paris, Jumat - Perancis, Jumat (6/5), mengusir 14 diplomat Libya yang setia kepada pemimpin Moammar Khadafy. Mereka diperintahkan meninggalkan negara itu dalam 48 jam. Demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Perancis, Paris.

”Keempat belas mantan diplomat itu bekerja di Kedubes Libya sebelum kedubes itu ditutup sekitar sebulan lalu,” kata seorang jubir kemlu yang minta identitasnya tak disebutkan.

Mereka dinyatakan sebagai ”persona nongrata”. Kementerian itu menuduh mereka melakukan ”aktivitas yang bertentangan dengan Resolusi PBB yang relevan ... dan bertentangan dengan perlindungan bagi warga sipil Libya”.

Deplu Perancis mengutip mandat PBB yang mendasari pasukan internasional mengebom tempat-tempat strategis Khadafy.

Perancis adalah salah satu negara asing pertama yang secara resmi mengakui Dewan Nasional Transisi, sayap politik pihak pemberontak Libya.

Beberapa hari setelah mulainya pemberontakan bulan Februari, Dubes untuk Perancis dan Dubes untuk UNESCO di Paris menyatakan kesetiaan pada pihak pemberontak dan mengeluhkan represi pasukan Khadafy terhadap warga sipil.

Perancis, AS, Inggris, dan negara-negara lain mencoba mencari cara untuk membantu pemberontakan yang telah merebut Libya timur, tetapi kemudian agak keteteran.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kejahatan perang

Pengeboman dan penetapan sebuah zona larangan terbang yang kedua di Libya bertujuan melindungi warga sipil. Namun, hal ini tidak mencegah pasukan Khadafy menyerang kantong-kantong pemberontak yang masih bertahan di Libya barat, terutama di kota Misrata dan Zintan yang dikepung.

Amnesty International mengatakan pada hari Jumat bahwa serangan-serangan tanpa pandang bulu ke Misrata, termasuk penggunaan penembak jitu, bom tandan, dan artileri di kawasan sipil, bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang.

”Skala serangan-serangan oleh pasukan Khadafy ... benar-benar menakutkan,” kata Donatella Rovera, penasihat senior Amnesty International di Libya.

”Serangan-serangan itu sama sekali tak memedulikan nyawa rakyat biasa dan merupakan pelanggaran hukum kemanusiaan internasional.”(AP/AFP/Reuters/DI)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.