Tentara Libya Diberi Viagra

Kompas.com - 29/04/2011, 10:23 WIB
EditorEgidius Patnistik

NEW YORK, KOMPAS.com — Amerika Serikat melontarkan tuduhan bahwa rezim Moammar Khadafy memberi viagra kepada para tentaranya untuk melakukan perkosaan. Sementara itu, Dewan Keamanan PBB masih terus berdebat tentang serangan koalisi di negeri itu.

Rusia dan sejumlah negara lain menilai bahwa Perancis, Inggris, Amerika Serikat, dan sekutu mereka yang mematroli zona larangan terbang di atas wilayah udara Libya akan melampaui mandat yang diberikan oleh resolusi Dewan Keamanan PBB. Namun, Amerika Serikat berkeras bahwa aksi koalisi itu masih dalam koridor resolusi.

Dalam sebuah pertemuan tertutup yang berlangsung sengit di PBB, Kamis (28/4/2011), Duta Besar AS untuk PBB Susan Rice menyoroti penggunaan viagra itu, demikian menurut sejumlah diplomat yang hadiri pada pertemuan itu. Rice mengatakan, tentara Khadafy "membagikan viagra kepada para tentara sehingga mereka turun ke lapangan dan memperkosa", kata seorang diplomat yang hadir menirukan ucapan Rice.

Rice tidak menyebutkan sumber tuduhannya. Namun, seorang diplomat lain pada pertemuan itu mengatakan, Rice mengeluarkan komentar itu sebagai bagian dari sebuah perdebatan dengan seorang utusan negara lain untuk menyoroti kondisi bahwa "koalisi (di Libya) menghadapi musuh yang melakukan tindakan tercela". Misi AS di PBB belum mengomentari pernyataan tersebut.

Tuduhan bahwa viagra diberikan kepada pasukan Khadafy telah diberitakan sejumlah tabloid Inggris. Seorang dokter di kota Ajdabiya, Libya, mengatakan bulan lalu bahwa tentara Khadafy telah diberi viagra dan kondom sebagai bagian dari sebuah kampanye kekerasan seksual. Margot Wallstrom, Perwakilan Khusus PBB pada Masalah Kekerasan Seksual dalam Konflik, mengeluarkan sebuah pernyataan pada minggu lalu yang menyatakan bahwa laporan tentang perkosaan dalam perang Libya telah "dibungkam secara brutal".

Dewan Keamanan PBB kian terpecah dalam menghadapi konflik Libya. Rusia mengecam koalisi Barat. Vitaly Churkin, Duta Besar Rusia untuk PBB, mengatakan, Resolusi 1970 dan 1973 yang mengizinkan aksi militer di Libya demi melindungi warga sipil harus dilaksanakan secara ketat dan akurat. "Kami prihatin dengan kecenderungan eskalasi konflik militer yang merenggut banyak nyawa di pihak sipil," kata Churkin kepada wartawan. "Kami berharap apa yang sedang dilakukan koalisi tidak dilihat oleh oposisi sebagai sebuah insentif untuk tidak ikuti dalam perundingan karena kami percaya, dialog merupakan sesuatu yang pada akhirnya akan menyelesaikan konflik."

Perancis dan Inggris juga sangat membela serangan koalisi terhadap sasaran-sasaran milik rezim Khadafy dalam perdebatan itu. "Dewan Keamanan diberi tahu pada saatnya apa yang koalisi akan lakukan," kata seorang diplomat Barat, yang tidak mau disebut jati dirinya. "Intinya adalah bahwa tindakan tersebut telah menyelamatkan nyawa."

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X