Harga Minyak dan Inflasi Terus Menekan

Kompas.com - 26/04/2011, 03:10 WIB
Editor

BANGKOK, SENIN - Kenaikan harga minyak dan antisipasi kemungkinan China akan melakukan kebijakan pengetatan moneter untuk melawan inflasi membuat pasar saham Asia kembali melemah pada perdagangan Senin (25/4).

Harga minyak melonjak hingga mendekati 113 dollar AS per barrel setelah kubu oposisi Libya yang menguasai kawasan ladang minyak mengatakan mereka tidak akan memproduksi minyak setidaknya dalam satu bulan ke depan.

Dari Benghazi, Libya, dilaporkan, setidaknya diperlukan waktu lebih lama lagi untuk memperbaiki dua pompa di dua ladang minyak utama, Messla dan Sarir. Pompa tersebut rusak karena pertempuran, ujar Wahid Bughaigis, yang ditunjuk sebagai menteri perminyakan dari kubu yang melawan pemerintah.

”Kami baru saja selesai melakukan penilaian dan kami sedang mulai perbaikan. Kami yakin semua ini akan selesai dalam waktu empat pekan,” kata Bughaigis.

Libya merupakan salah satu anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang memiliki cadangan minyak terbanyak. Akan tetapi, ekspor minyak dari Libya menghilang dari pasaran internasional sejak terjadi kekacauan di negara itu. Kurangnya pasokan minyak membuat harga minyak meroket hingga tingkat tertinggi pada dua tahun terakhir.

Walaupun pasar di Asia ditutup melemah, diharapkan pasar saham AS di Wall Street dibuka menguat. Indeks berjangka Dow Jones naik 27 poin dan indeks berjangka S&P 500 naik 3,9 persen. Sementara pasar saham di Eropa masih tutup karena hari Paskah.

Sektor properti

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bank sentral China diperkirakan akan mengetatkan kontrol pemerintah atas sektor properti sebagai bagian dari kebijakan mengurangi risiko penggelembungan aset dan kenaikan inflasi. Sektor properti dianggap menjadi salah satu sektor yang menyebabkan inflasi meroket karena harga properti melonjak tajam.

Selain itu, bank sentral China juga mengerem kucuran kredit dan menaikkan tingkat suku bunganya. Kenaikan tingkat suku bunga akan mempersulit pengusaha untuk berekspansi.

Kenaikan pesat kurs yuan belakangan ini juga membuat bank sentral China secara diam-diam mengubah arah kebijakan moneternya.

”Banyak orang khawatir harga minyak yang terus tinggi akan membuat inflasi menjadi lebih tinggi lagi pada bulan yang akan datang. Hal itu berarti bank sentral China harus melaksanakan kebijakan moneter ketat,” ujar Zhu Haomin, analis pada Soochow Securities.

Sejak Maret, bank sentral China telah menurunkan paritas kurs yuan per dollar AS sebesar 0,55 persen menjadi rata-rata tahunan sebesar 9,7 persen.

(AP/AFP/JOE)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X