Pilihan buat Mubarak, Bui atau Tiang Gantung

Kompas.com - 15/04/2011, 18:51 WIB
EditorJosephus Primus

KAIRO, KOMPAS.com — Mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak, yang ditahan untuk menunggu hasil penyelidikan kasus korupsi dan kekerasan terhadap negara, dapat dipenjara atau digantung jika terbukti bersalah memerintahkan pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa, menurut media pemerintah, Jumat (15/4/2011).    

Surat kabar milik pemerintah, Al-Ahram, mengutip pernyataan pimpinan Pengadilan Banding Kairo, Zakaria Shalash, mengatakan, mantan Presiden Hosni Mubarak boleh jadi menjalani eksekusi setelah pengadilan yang diperkirakan akan berlangsung setidaknya satu tahun.    

Mubarak dan kedua anak lelakinya, Alaa dan Gamal, ditahan selama 15 hari pekan ini setelah jaksa melakukan pembuktian terkait tindak kekerasan terhadap para pengunjuk rasa yang dilakukan pemerintahnya selama aksi perlawanan 18 hari yang populer yang memaksa Mubarak untuk mengundurkan diri pada 11 Februari lalu. Sebuah panel pemberantasan korupsi akan mulai menanyai Mubarak dan dua anak lelakinya pekan depan atas dugaan korupsi, menurut surat kabar itu.    

Shalash mengatakan, kesaksian oleh mantan Menteri Dalam Negeri pemerintahan Mubarak, Habib al-Adly, yang juga sedang diadili atas tuduhan memerintahkan penembakan terhadap para pengunjuk rasa antirezim, dapat menjadikannya kaki tangan Mubarak jika terbukti. Adly mengatakan bahwa ia diperintahkan untuk menggunakan kekerasan terhadap demonstran oleh mantan pemimpin Mesir tersebut.    

"Jika terbukti, dia (Mubarak) akan menerima hukuman yang sama seperti orang yang melaksanakan perintahnya dan bisa menjalani eksekusi jika terbukti bahwa para pengunjuk rasa damai dibunuh secara terencana," katanya.    

"Mubarak juga berpeluang menerima hukuman penjara seumur hidup jika terbukti tidak ada kematian terencana dari para pengunjuk rasa aksi damai itu," katanya menambahkan.    

Diperkirakan 800 orang tewas dalam aksi protes untuk menggulingkan pemimpin veteran itu dari kekuasaan. "Mubarak juga dapat dihukum tiga sampai lima tahun penjara jika terbukti bahwa tindakan keras yang ia perintahkan membuat pengunjuk rasa cacat," kata Shalash.    

Tak satu pun dari kecurigaan yang menyebabkan penahanan Mubarak sejauh ini diterjemahkan ke dalam bentuk tuntutan. Mubarak berada di sebuah rumah sakit di bawah penjagaan polisi setelah menderita serangan jantung dan kedua anak lelakinya ditahan di penjara Kairo.    

Penyelidikan itu sendiri dapat berlangsung selama enam bulan, menurut televisi pemerintah, mengutip seorang pejabat penuntutan.    

Shalash menambahkan bahwa Mubarak mungkin menghadapi ancaman hukuman penjara antara tiga sampai 15 tahun jika dugaan melakukan suap dan korupsi terbukti.    

Pengadilan Mubarak adalah tuntutan utama dalam aksi protes yang menarik puluhan ribu orang di beberapa pekan terakhir, yang akhirnya mengarah ke bentrokan mematikan dengan tentara yang mencoba untuk membubarkan demonstrasi di Kairo itu.    

Kelompok-kelompok oposisi menghentikan demonstrasi yang direncanakan dilakukan pada Jumat setelah mantan presiden itu dan anak-anaknya ditahan.

 
 

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

    Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

    Internasional
    Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

    Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

    Internasional
    Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

    Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

    Internasional
    Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

    Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

    Internasional
    Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

    Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

    Internasional
    Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

    Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

    Internasional
    Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

    Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

    Internasional
    Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

    Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

    Internasional
    [KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

    [KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

    Internasional
    Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

    Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

    Internasional
    Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

    Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

    Internasional
    Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

    Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

    Internasional
    Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

    Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

    Internasional
    Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

    Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

    Internasional
    Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

    Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

    Internasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X