Eks Presiden Gbagbo dan Istri Diringkus - Kompas.com

Eks Presiden Gbagbo dan Istri Diringkus

Kompas.com - 12/04/2011, 06:16 WIB

ABIDJAN, KOMPAS.com - Pasukan pro presiden terpilih Pantai Gading, Alassane Ouattara, meringkus eks presiden Laurent Gbagbo dan isterinya, Simone, Senin (11/4/2011).

Juru bicara itu, Anne Ouloto, mengatakan, pasangan tersebut dibawa ke Hotel Golf, tempat Ouattara bermarkas sekitar pukul 13.00 GMT (pukul 20 WIB), tak lama setelah penangkapan mereka.

"Ia di sini dengan isterinya dan anak laki-lakinya Michel. Saya dapat melihat mereka sekarang," kata Ouloto. Ia berbicara melalui telepon dari bekas tempat peristirahatan di tepi danau di pinggir laut yang sekarang berubah jadi kamp bersenjata yang dilindungi bekas tentara pemberontak dan penjaga perdamaian PBB.

PBB membenarkan penangkapan Gbagbo itu. "Misi PBB di Panti Gading mengkonfirmasi bahwa mantan Presiden Laurent Gbagbo telah menyerah pada pasukan Alassane Ouattara dan sekarang dalam tahanan mereka," kata juru bicara PBB Farhan Haq.

Haq menambahkan, misi PBB yang dikenal sebagai UNOCI itu "memberikan perlindungan dan keamanan sesuai dengan mandatnya". Ia menjelaskan, UNOCI diberi mandat untuk melindungi para petaruh politik di Pantai Gading, yang mencakup Gbagbo.

Sementara itu, masih berkaitan, satu sumber pemerintah Prancis membantah laporan bahwa tentara Prancis menangkap Gbagbo ketika pasukan yang setia pada saingannya, Ouattara, menyerang markasnya.

"Tuan Gbagbo ditangkap tentara Ouattara, itu yang benar, tapi tidak oleh pasukan khusus Prancis, yang tidak masuk ke dalam pagar kediaman (Gbagbo)," kata sumber itu.

Sebelumnya, beberapa saksi melaporkan melihat pasukan pro-Ouattara masuk kompleks kediaman Gbagbo yang dikepung, sementara kendaraan-kendaraan lapis baja Prancis dan PBB digelar di jalan yang menuju ke kompleks itu.

Komando tinggi militer Prancis menambahkan bahwa "tak pernah" pasukan Prancis masuk taman atau halaman kompleks Gbagbo.

Dengan tertangkapnya Gbagbo, berakhir pula krisis politik yang dipicu oleh pemilihan presiden November lalu, ketika presiden Gbagbo tidak mau mengakui kekalahannya dan menyerahkan kekuasaan pada pemenang pilpres yang diakui masyarakat internasional, Ouattara.


Editoryuli

Close Ads X