Era Raja dan Pemimpin Agama Sudah Lewat

Kompas.com - 10/04/2011, 06:06 WIB
EditorJimmy Hitipeuw

DHARAMSALA, KOMPAS.com — Bangsa Tibet memasuki era baru setelah pemimpin mereka, Dalai Lama, memutuskan mengakhiri sistem politik yang sudah berjalan di negeri tersebut selama 369 tahun. Dalai Lama tak lagi menjadi pemimpin politik bagi bangsa Tibet.

”Keputusan saya sudah final. Ini semua demi masa depan institusi Dalai Lama dan demi kepentingan rakyat Tibet untuk jangka panjang,” tutur Dalai Lama kepada wartawan Kompas Dahono Fitrianto, dalam wawancara khusus di kediamannya di Dharamsala, India, Jumat (8/4/2011).

Pemindahan kekuasaan secara resmi akan dilakukan pada Sidang Umum Rakyat Tibet yang digelar di Dharamsala, 28 Mei mendatang.

Dalai Lama menjelaskan, pada awal pembentukannya abad ke-15, institusi Dalai Lama memang tidak ditujukan untuk menjadi pemimpin politik. Institusi Dalai Lama menjadi pemimpin spiritual Tibet, pemimpin tertinggi, serta pemersatu empat aliran agama Buddha yang tumbuh di Tibet dan satu agama tradisional masyarakat Tibet, yakni agama Bon.

”Empat Dalai Lama yang pertama murni menjadi pemimpin agama. Tidak memiliki kekuasaan politik. Baru pada era Dalai Lama Ke-5, institusi ini menjadi kepala pemerintahan. Jadi sejak saat itu Dalai Lama menjadi pemimpin politik dan spiritual,” tutur Dalai Lama Ke-14 dengan nama Tenzin Gyatso ini.

Kepemimpinan Dalai Lama pun berlangsung turun-temurun menggunakan sistem reinkarnasi, yang menjadi salah satu kepercayaan dalam agama Buddha. Sistem tersebut, menurut Dalai Lama, secara umum telah memberikan pemerintahan yang stabil dan dicintai rakyat Tibet selama hampir empat abad.

Dalai Lama bahkan masih dianggap sebagai pemimpin de facto bagi sekitar 6 juta rakyat Tibet saat ini meski wilayah Tibet sendiri sejak 1951 sudah berada di bawah kekuasaan Republik Rakyat China.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Secara resmi peran dan kekuasaan politik Dalai Lama hanya sebatas memimpin pemerintahan Tibet dalam pengasingan atau Central Tibetan Administration (CTA) yang berpusat di Dharamsala, India.

Namun, sistem dwifungsi kepemimpinan tersebut dianggap sudah tak memadai lagi pada abad ke-21 ini. ”Sekarang, abad ke-21, era pemerintahan raja dan pemuka agama sudah lewat.

"Jadi dalam kesempatan ini, saat 99 persen rakyat Tibet masih percaya dan menghormati saya, saya dengan gembira dan secara sukarela menyerahkan seluruh kekuasaan politik kepada pemimpin terpilih," tutur pemimpin karismatis yang sudah berusia 75 tahun ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X