Era Raja dan Pemimpin Agama Sudah Lewat

Kompas.com - 10/04/2011, 06:06 WIB
EditorJimmy Hitipeuw

Demokrasi terencana

Meski disampaikan dalam konteks politik Tibet, pernyataan Dalai Lama itu menjadi sangat relevan dengan apa yang sedang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Pergolakan rakyat yang terjadi di wilayah tersebut membuktikan, era kekuasaan raja dan segala jenis penguasa absolut lainnya memang sudah berakhir.

Pengumuman pengunduran diri Dalai Lama dari panggung politik Tibet disampaikan pada peringatan 52 tahun Hari Kebangkitan Nasional Tibet, 10 Maret lalu. Proses ini pun menandai puncak demokratisasi politik Tibet yang sudah dirancang sejak 1960-an.

Tibet bahkan sudah menerapkan eksperimen demokrasi selama 10 tahun sejak menggelar pemilu pertama untuk memilih kalon tripa atau ketua kabinet pada 2001. ”Sejak itu posisi saya sebenarnya sudah semipensiun. Sekarang 10 tahun sudah berlalu, dan (proses) demokrasi kami harus dituntaskan,” ujar Dalai Lama.

Meski demikian, tetap saja keputusan tersebut mengejutkan rakyat Tibet, yang merasa belum siap ditinggalkan pemimpinnya. ”Keputusan ini sangat sulit dicerna rakyat Tibet karena kami sudah (telanjur) terkondisi untuk bergantung kepada para Dalai Lama,” ungkap Samdhong Rinpoche, Kalon Tripa CTA yang sudah terpilih dua kali sejak 2001.

Dawa Tsering (25), seorang aktivis di Tibet yang baru saja meloloskan diri ke Dharamsala, mengaku sangat khawatir saat mendengar pengumuman pengunduran diri Dalai Lama tersebut.

Namun, setelah mendengar penjelasan langsung Dalai Lama dalam ceramah publik pada 19 Maret, Tsering mengaku bisa memahami keputusan itu. ”Yang Mulia meyakinkan kami bahwa akan ada kepemimpinan yang lebih kapabel setelah ini,” ungkapnya.

Prestise internasional

Transisi demokrasi di Tibet ini, lanjut Dalai Lama, akan mengangkat prestise bangsa Tibet di dunia internasional. Saat di negara-negara lain perjuangan menuju demokrasi sering harus diawali dengan kekacauan atau bahkan pertumpahan darah, transisi demokrasi di Tibet berjalan dengan damai dalam sebuah kerangka pemikiran yang sudah dirancang jauh-jauh hari.

Selain itu, pengunduran diri Dalai Lama dari urusan politik akan membuktikan kepada dunia bahwa tuduhan China selama ini salah. Pemerintah China selalu berusaha menunjukkan bahwa masalah di Tibet sudah selesai dan satu-satunya masalah dari Tibet adalah ambisi pribadi Dalai Lama.

”Para pemimpin komunis garis keras di China selalu menganggap tak ada masalah lagi di Tibet. Satu-satunya masalah adalah saya, Dalai Lama,” ungkap pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 1989 ini.

Dengan mundur sepenuhnya dari panggung politik, Dalai Lama menunjukkan bahwa ia tak punya kepentingan pribadi dalam perjuangan hak-hak rakyat Tibet selama ini.

Dalai Lama juga menegaskan, pengunduran dirinya dari politik ini tak akan membuat perannya dalam mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan dan keharmonisan kehidupan beragama di dunia akan ikut surut.

”Tidak. Saya justru akan punya waktu lebih banyak untuk melakukan semua itu. Dua hal sudah menjadi komitmen saya kepada dunia, yakni mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan demi kebahagiaan dunia serta mempromosikan harmoni kehidupan beragama,” tutur Dalai Lama.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X