Perang di Kota Minyak

Kompas.com - 06/04/2011, 07:51 WIB
EditorEgidius Patnistik

BREAGA, KOMPAS.com — Pertempuran sengit pasukan pemimpin Libya, Moammar Khadafy, melawan oposisi dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berlangsung di kota minyak Brega, Selasa (5/4/2011). Loyalis Khadafy masih kuat dan oposisi terdesak ke luar kota. Itu pertempuran pada hari keenam.Kota pelabuhan dan produsen minyak Libya ini dikuasai loyalis Khadafy setelah dapat mereka rebut dari pasukan oposisi, Kamis lalu. Sejak itu, dengan memanfaatkan bantuan serangan udara dari NATO, oposisi terus berjuang merebut kembali Brega, tetapi selalu gagal.

Selasa pagi, roket kubu loyalis menyasar basis oposisi di gerbang timur kota. Tank dan pikap yang dipasangi senjata mesin atau roket peluncur milik oposisi terbakar. Asap mengepul. Pasukan oposisi dibuat kocar-kacir.

Mereka lari berhamburan ke luar kota di bawah guyuran tembakan roket, granat, dan senjata artileri berat dari loyalis. Oposisi dipukul mundur sejauh 5 kilometer ke timur Brega, ke arah Ajdabiya. Insiden ini merupakan kekalahan pertama oposisi dalam pertempuran mereka selama enam hari ini di Brega.

Para anggota pasukan oposisi, menurut AFP, tampak menarik kembali ratusan kendaraan mereka ke arah Ajdabiya, 80 kilometer dari Benghazi, basis utama pertahanan oposisi di Libya timur. Kejadian ini sekaligus merupakan langkah maju loyalis sekalipun terus ditekan gempuran udara oleh pasukan NATO.

Kubu oposisi sangat miskin dalam hal persenjataan. Belum tersiar tentang adanya korban jiwa dalam pertempuran terbaru itu. Banyak keluarga di kota Brega berlarian dan melajukan kendaraan mereka untuk menyelamatkan diri, juga ke arah timur.

”Brega hampir kosong. Hanya ada sejumlah kecil pria dan anak laki-laki mereka untuk menjaga rumah,” kata Sami Ali, penduduk Brega. ”Orang-orang kami (oposisi) ada di timur kota, tetapi kekuatan Khadafy menembaki mereka dari barat,” katanya.

Pasukan loyalis Khadafy tidak berani ke luar kota, misalnya ke tengah gurun, untuk bertempur karena khawatir menjadi sasaran serangan aliansi NATO. Khadafy mengubah strategi dan taktik serangan terhadap oposisi yang memang sangat terbatas dalam sumber daya. Pasukan oposisi terdiri dari sukarelawan yang baru dilatih memegang senjata dan sedikit sekali yang terlatih.

Selain di Misrata, loyalis Khadafy juga menggempur dengan senjata berat ladang minyak Misla dan Sarir, 400 km selatan kota Ajdabiya. Ladang minyak Misla dan Sarir menyuplai minyak mentah ke Tobruk, kota penyulingan minyak yang berjarak 150 km barat perbatasan Libya-Mesir. Tobruk, yang mengekspor 700.000 dari 1,6 juta barrel produksi minyak Libya per hari sebelum krisis, dikuasai oposisi.

Aksi militer Khadafy menggempur ladang-ladang minyak itu dalam upaya mencegah kubu oposisi bisa menjual minyak ke pasar internasional. Setelah Dewan Nasional Transisi (TNC) menjadi wadah politik kubu oposisi, perhatian internasional terhadap oposisi semakin intens.

Di Libya barat, loyalis Khadafy terus menggempur kota Misrata, 200 km timur kota Tripoli. Kota ini dikepung dari tiga arah, yakni arah timur, selatan, dan barat. Dengan demikian, pasukan Khadafy masih tetap bertaring sekalipun 30 persen kekuatannya telah dihancurkan NATO. Sejumlah penembak jitu Khadafy terus menduduki atap beberapa gedung di Tripoli. (AP/AFP/REUTERS/MTH/CAL)

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X