Khadafy Menantang NATO

Kompas.com - 02/04/2011, 05:50 WIB
Editor

tripoli, jumat - Pasukan Moammar Khadafy masih perkasa meski sekitar seperempat kekuatan militernya dihancurkan koalisi Barat. Khadafy bahkan siap mengusir koalisi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang melakukan serangan udara, berlawanan dengan keinginan internasional yang memintanya turun dan keluar dari Libya.

Militer dan milisi loyalis Khadafy, Jumat (1/4), merebut kembali sejumlah kota strategis dari oposisi, seperti kota minyak Ras Lanuf dan Brega. Kota Misrata dan Bin Jawad yang sempat diduduki oposisi dikuasai lagi oleh loyalis Khadafy.

Sehari sebelumnya, ketika petinggi Barat mendesaknya turun dan keluar dari Libya, Khadafy menantang mereka dan mengatakan, bukan dia yang harus pergi. Para pemimpin Barat itulah yang harus mundur.

Khadafy, yang berkuasa sejak 1 September 1969, menuding pemimpin asing menyerang pasukannya karena ”dipengaruhi kegilaan akan kekuasaan”. Menurut dia, ”solusi untuk masalah ini ialah mereka segera mengundurkan diri dan rakyatnya mencari pengganti.”

Militer Amerika Serikat juga mengakui, pasukan Khadafy masih kuat. Menteri Pertahanan AS Robert Gates dalam testimoninya di Kongres, Kamis, menjelaskan, pasukan oposisi lemah dan kurang terorganisasi, sedangkan loyalis Khadafy tetap kuat. Namun, Gates menegaskan, AS tak boleh melatih dan membantu oposisi Libya. AS juga tak boleh mencampuri urusan nation building Libya seandainya rezim Khadafy jatuh. Dua hal itu biar dilakukan pihak lain saja.

Kepala Staf Gabungan AS Laksamana Mike Mullen mengatakan, Khadafy belum terkalahkan meski serangan udara koalisi berjalan hampir dua pekan. Loyalis memakai senjata superior dan memukul mundur oposisi ke Benghazi, kota utama di Libya timur, yang menjadi basis oposisi. Dengan demikian, mereka semakin jauh dari Tripoli.

Stasiun televisi Al-Jazeera melaporkan, sejumlah pejabat dan penasihat dekat Khadafy telah meninggalkan negara tersebut menuju Tunisia. Mereka mengikuti jejak Menteri Luar Negeri Libya Moussa Koussa yang lari ke London, Inggris, melalui Tunisia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di antara petinggi yang disebut ialah Menteri Perminyakan Shukri Ghanim. Namun, Ghanim menyatakan, dirinya masih berada di Libya dan tak berniat pergi. Pemerintah Libya juga tidak mengakui bahwa Koussa membelot dan mengatakan Koussa ke Inggris untuk misi diplomatik.

(AP/AFP/REUTERS/CAL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.