Revolusi atau Reformasi?

Kompas.com - 29/03/2011, 04:36 WIB
Editor

Libya

Perubahan di Libya ketika Kolonel Moammar Khadafy menggulingkan Raja Idris pada 1969 itu merupakan sebuah revolusi.

Dengan kekuatan ”buku suci”-nya, Kitab al-Akhdar (Buku Hijau, buku politik Libya), Moammar Khadafy membangun Libya dengan caranya sendiri. Kekuatan minyak digunakan sebagai alat ekonominya meski harus membungkam rakyatnya. Partai-partai politik dilarang oleh Khadafy, menjelang tahun 1970-an. Sebab, menurut Khadafy, partai politik itu adalah bagian dari diktator.

Khadafy juga tak pernah menggelar pemilihan umum untuk memilih pemimpin Libya. Dan, dengan tangan besinya itu, Khadafy mampu berkuasa selama 40 tahun.

Ini memang agak sedikit berbeda jika dilihat dengan kacamata demokrasi ala Barat. Sangat tidak demokratis, tetapi bagi Moammar Khadafy, cara ini adalah cara yang cocok untuk Libya.

Khadafy juga mengkritik sistem parlemen karena yang namanya perwakilan itu bukanlah suara rakyat. Dunia modern tentu tidak akan bersimpati kepada Khadafy yang memimpin negerinya dengan cara itu. Akan tetapi, itulah Khadafy.

Sebetulnya Khadafy juga ingin membangun semacam kerajaan, dengan Saiful Islam—salah seorang anaknya—dipersiapkan sebagai orang yang akan menggantikannya. Meski demikian, di antara anak-anak Khadafy sendiri memang ada juga pertikaian.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Apakah aksi massa yang telah ”berhasil” menggulingkan Ben Ali dari kekuasaan di Tunisia dan Hosni Mubarak di Mesir akan berhasil pula menumbangkan Khadafy? Tentunya ini bergantung pada bagaimana kekuatan konsolidasi oposisi plus peran militer Libya, yang sampai saat ini masih berada di belakang Khadafy.

Dampak pergolakan di Mesir sangat berpengaruh di Libya. Hal itu bisa dilihat bahwa pergerakan oposisi Libya dimulai dari sebelah timur, dekat Mesir. Dan, seperti juga nama kota, tempat dimulainya pergolakan adalah di Libya timur, Benghazi. Kota itu arti katanya adalah ”anak perang”. Benghazi adalah tempat yang di dalam sejarah Libya merupakan asal muasal orang- orang kuat yang suka perang. Sebuah tempat yang memungkinkan untuk selalu bergejolak dan kemudian menentang Tripoli, pusat kekuasaan Khadafy.

Kemudian ada juga faktor eksternal, Amerika Serikat, yang dicurigai ikut mendorong atau mendukung oposisi ini dengan cara tidak langsung. Kemungkinan karena pihak luar ini memiliki kepentingan di Libya menyangkut minyak.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.