Tsunami Itu Datang Sebelum Sakura Mekar

Kompas.com - 18/03/2011, 08:47 WIB
EditorEgidius Patnistik
Oleh: Ahmad Arif

Suhu dua derajat di bawah nol. Tanpa listrik, tanpa pemanas ruangan. Namun, Sekolah Menengah Atas Torio, Kesennuma, Prefektur Miyagi, Jepang, yang dijadikan barak pengungsian itu terasa hangat oleh kasih dan rasa hormat kepada kemanusiaan yang tak mengenal batas suku, bangsa, dan agama.

Di antara harapan untuk segera pulang ke Tanah Air, terasa betul bahwa 33 remaja putri asal Indonesia yang menjadi korban tsunami itu berat meninggalkan Kesennuma.

Demikian juga sebaliknya, orang-orang Jepang di pengungsian seperti tak rela melepas kepergian anak-anak Indonesia. Beberapa di antara mereka naik ke bus penjemput dan menyalami anak-anak itu hingga saat terakhir sebelum keberangkatan. Bahkan, sebelumnya, penanggung jawab pengungsian meminta kepergian itu ditunda hingga keesokan paginya.

Setelah bernegosiasi sekitar sejam, Kepala Atase Pendidikan Budaya Kedutaan Besar RI di Jepang Edison Munaf akhirnya berhasil mengevakuasi para korban malam itu juga ke Tokyo. Anak-anak ini adalah lulusan sejumlah sekolah menengah kejuruan di Indonesia yang tengah magang sekaligus bekerja di empat perusahaan pengolahan hasil laut di Kesennuma.

Sebelum bus pergi, Mikasa-san, salah seorang pengungsi, menyerahkan kantong plastik penuh berisi roti kepada anak-anak itu sebagai bekal perjalanan menuju Tokyo sejauh sekitar 330 km dari Kesennuma.

”Mereka selalu baik kepada kami. Bahkan, tetap baik saat bencana,” kata Marlina, remaja asal Brebes, Jawa Tengah, yang sudah 2,5 tahun tinggal dan bekerja di pabrik pengolahan telur ikan salmon di Kesennuma.

Menurut dia, orang-orang Jepang di Kesennuma sering menyambangi rumah kontrakan anak-anak Indonesia dan membagikan makan. ”Kami bukan siapa-siapa, tetapi mereka menerima kami seperti saudara, bukan hanya melihat kami sebagai pendatang,” katanya.

Bahkan, menurut rekan Marlina, Yulianti (19), asal Cirebon, pada hari pertama setelah gempa dan tsunami, ketika hanya tersisa sebuah jeruk di pengungsian, orang-orang Jepang itu membagi satu ruas jeruk untuk satu orang. ”Tak peduli asli Jepang atau tidak. Semua mendapat bagian,” kata Yulianti.

Karena itu, bagi Yulianti, bus jemputan itu terlalu cepat datangnya. ”Kami belum sempat berpamitan dengan mereka semua,” ucapnya.

Ketegaran yang menular

Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X