PKS Tak Percaya Wikileaks

Kompas.com - 11/03/2011, 11:29 WIB
EditorHeru Margianto

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera Mahfudz Siddiq tidak menggubris pemberitaan koran The Age, Australia, Jumat (11/3/2011). Alasannya, Mahfudz sejak awal mengaku tidak memercayai informasi yang dihimpun Wikileaks.

"Sejak awal muncul kasus Wikileaks, saya sudah sampaikan bahwa banyak info yang sifatnya sampah," kata Mahfudz seperti dikutip Tribunnews di Jakarta, Jumat.

Dia berharap Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta menjelaskan hal tersebut lantaran dokumen Wikileaks berasal dari kawat diplomatik kedutaan tersebut.

"Jadi yang harus klarifikasi adalah US Embassy tentang benar atau tidaknya info itu," jelasnya seraya mempertanyakan motif pemberitaan yang menyebut Presiden Yudhoyono 'menyalahgunakan kekuasaan'.

"Ada pertanyaan penting yang harus dijawab, apa motif, agenda, dan tujuan Wikileaks dengan semua ini? Ingat ada sosok George Soros di baliknya," urainya.

Harian Australia, The Age, Jumat, memuat berita utama tentang penyalahgunaan kekuasaan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Laporan harian itu berdasarkan kawat-kawat diplomatik rahasia Kedubes Amerika Serikat di Jakarta yang bocor ke situs WikiLeaks.

Kawat-kawat diplomatik tersebut, yang diberikan WikiLeaks khusus untuk The Age, mengatakan, Yudhoyono secara pribadi telah campur tangan untuk memengaruhi jaksa dan hakim demi melindungi tokoh-tokoh politik korup dan menekan musuh-musuhnya serta menggunakan badan intelijen negara demi memata-matai saingan politik dan, setidaknya, seorang menteri senior dalam pemerintahannya sendiri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kawat-kawat itu juga merinci bagaimana mantan wakil presiden Jusuf Kalla pada Desember 2004 dilaporkan telah membayar jutaan dollar AS, sebagai uang suap, agar bisa memegang kendali atas Partai Golkar. Kawat-kawat itu juga mengungkapkan bahwa istri Presiden, Kristiani Herawati, dan keluarga dekatnya ingin memperkaya diri melalui koneksi politik mereka.

Laporan The Age itu muncul saat Wakil Presiden Boediono mengunjungi Canberra hari ini untuk berbicara dengan Wayne Swan yang bertindak sebagai Perdana Menteri Australia, dan berdiskusi dengan para pejabat negara itu tentang perubahan administratif untuk mereformasi birokrasi di Indonesia.

 

Baca juga Indonesia Darurat Narkotik

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Amnesty Desak Aparat Investigasi Teror Bom Molotov di Kantor LBH Yogyakarta

    Amnesty Desak Aparat Investigasi Teror Bom Molotov di Kantor LBH Yogyakarta

    Nasional
    Ombudsman Telah Beri Rekomendasi Terkait TWK KPK ke Presiden dan DPR

    Ombudsman Telah Beri Rekomendasi Terkait TWK KPK ke Presiden dan DPR

    Nasional
    Mengenang Pendeta Yeremia yang Tewas Ditembak di Papua

    Mengenang Pendeta Yeremia yang Tewas Ditembak di Papua

    Nasional
    38 Akademisi dari Australia Surati Jokowi, Minta Amnesti untuk Saiful Mahdi

    38 Akademisi dari Australia Surati Jokowi, Minta Amnesti untuk Saiful Mahdi

    Nasional
    PT KAI Buka Lowongan Kerja, Ini Formasi dan Cara Daftarnya

    PT KAI Buka Lowongan Kerja, Ini Formasi dan Cara Daftarnya

    Nasional
    Pemanggilan Suroto ke Istana Dinilai Paradoks Demokrasi, Hanya Manis di Depan

    Pemanggilan Suroto ke Istana Dinilai Paradoks Demokrasi, Hanya Manis di Depan

    Nasional
    Polisi Pastikan Kasus Penganiayaan Tak Hambat Penyidikan Muhammad Kece

    Polisi Pastikan Kasus Penganiayaan Tak Hambat Penyidikan Muhammad Kece

    Nasional
    Cerita Suroto Bentangkan Poster ke Jokowi, Sulit Dapat Spidol hingga Kaki Gemetar

    Cerita Suroto Bentangkan Poster ke Jokowi, Sulit Dapat Spidol hingga Kaki Gemetar

    Nasional
    Dewan Pengawas KPK Tolak Laporkan Pelanggaran Etik Lili Pintauli secara Pidana

    Dewan Pengawas KPK Tolak Laporkan Pelanggaran Etik Lili Pintauli secara Pidana

    Nasional
    Profil Ali Kalora, Pemimpin Kelompok Teroris MIT yang Tewas

    Profil Ali Kalora, Pemimpin Kelompok Teroris MIT yang Tewas

    Nasional
    UPDATE: Tambah 11 di Korsel, Total 5.916 WNI Terpapar Covid-19 di Luar Negeri

    UPDATE: Tambah 11 di Korsel, Total 5.916 WNI Terpapar Covid-19 di Luar Negeri

    Nasional
    Dukung 56 Pegawai yang Akan Dipecat, Pegawai KPK Dipanggil Inspektorat

    Dukung 56 Pegawai yang Akan Dipecat, Pegawai KPK Dipanggil Inspektorat

    Nasional
    Jokowi Ungkap Kontribusi RI Hadapi Situasi Darurat Energi dan Iklim Dunia

    Jokowi Ungkap Kontribusi RI Hadapi Situasi Darurat Energi dan Iklim Dunia

    Nasional
    Mahfud Harap Publik Tetap Tenang Usai Pimpinan Teroris MIT Ali Kalora Tewas Ditembak

    Mahfud Harap Publik Tetap Tenang Usai Pimpinan Teroris MIT Ali Kalora Tewas Ditembak

    Nasional
    Solidaritas Pegawai KPK terhadap 56 Pegawai yang Akan Dipecat: Beri Dua Kali Surat Ke Pimpinan

    Solidaritas Pegawai KPK terhadap 56 Pegawai yang Akan Dipecat: Beri Dua Kali Surat Ke Pimpinan

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.