Belajar Berubah dari Kuwait dan Filipina

Kompas.com - 11/03/2011, 05:35 WIB
Editor

Banyak cara federasi atau asosiasi sepak bola suatu negara menjalani reformasi agar lebih baik. Bukan rahasia lagi, federasi atau asosiasi itu kerap menjadi bungker bagi para pengurusnya yang korup. Hal itu pula yang mendorong komunitas sepak bola di negara tersebut mereformasi tubuh federasi.

Di Kuwait, misalnya, upaya itu terjadi tahun 2007 ketika Otoritas Pemuda dan Olahraga Kuwait menggelar pemilihan ketua Asosiasi Sepak Bola Kuwait (KFA). Langkah ini dinilai FIFA sebagai bentuk intervensi pemerintah sehingga FIFA membekukan federasi sepak bola Kuwait pada Oktober 2007.

Dalam kurun setahun sejak itu, Kuwait dua kali mengalami pembekuan FIFA, yang dicabut sementara pada akhir Desember 2008. Meski demikian, pembekuan FIFA tidak berarti kiamat bagi sepak bola negeri itu. Setelah pembekuan FIFA, Kuwait lolos ke Piala Asia 2011 lewat kualifikasi lawan Australia, Oman, dan Indonesia. Pada Piala Asia 2007, negeri Teluk itu tidak lolos.

Selain Kuwait, kasus reformasi di Filipina bisa jadi pelajaran. Pada Kongres Federasi Sepak Bola Filipina (PFF) 29 November 2010, sebanyak 26 dari 33 anggota PFF mencopot Ketua PFF Jose Mari Martinez, yang didakwa menyelewengkan dana PFF dan melakukan pemalsuan dokumen publik. Ke-26 anggota PFF itu menunjuk Mariano Araneta sebagai ketua PFF yang baru.

Proses reformasi di tubuh PFF itu diikuti dengan kesuksesan timnas Filipina menapak semifinal Piala AFF 2010. Filipina kandas di semifinal setelah menjalani kedua leg di Jakarta. Reformasi PFF

mulus setelah FIFA dan AFC mengakui Ketua PFF Mariano Araneta yang diusung 26 anggota PFF.

Libatkan pemerintah

Upaya pembenahan federasi sepak bola juga berlangsung di sejumlah negara dan tak jarang melibatkan pemerintah. Dalam sejumlah kasus, berbagai upaya reformasi lewat pemerintah itu mungkin dilihat FIFA sebagai intervensi, tetapi tidak semua berujung pembekuan. Di China, misalnya, pemerintah menahan sejumlah pengurus Asosiasi Sepak Bola China (CFA)—termasuk dua wakil ketua CFA, Xie Yalong dan Nan Yong—terkait kasus suap.

Hal serupa terjadi di Polandia. September 2008, Komite Olimpiade Polandia membekukan Asosiasi Sepak Bola Polandia (PZPN). Setahun sebelumnya, Kementerian Olahraga Polandia melaksanakan langkah itu untuk membersihkan PZPN dari korupsi. Saat dibekukan, peran PZPN sempat diambil alih sebuah administrator bentukan pemerintah.

Pada 30 Oktober 2008, mantan striker timnas Polandia, Grzegorz Lato, terpilih jadi Ketua PZPN. Polandia diancam dibekukan FIFA karena intervensi pemerintah. Namun, hingga kini ancaman pembekuan FIFA itu tidak pernah terwujud. Status Polandia sebagai salah satu tuan rumah Piala Eropa 2012, bersama Ukraina, pun tidak diutak- atik.

Bagaimana dengan Indonesia? Tuntutan publik atas reformasi PSSI sulit dibendung. Banyak pilihan menggerakkan reformasi di PSSI, baik dari dalam maupun dari luar lembaga itu. Satu hal yang perlu digarisbawahi, proses seperti itu terjadi di banyak negara dan pembekuan FIFA bukanlah momok yang menakutkan. (SAM)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.