Dalai Lama Mundur dari Peran Politik

Kompas.com - 10/03/2011, 13:22 WIB
EditorEgidius Patnistik

DHARAMSHALA, KOMPAS.com — Dalai Lama, Kamis (10/3/2011), mengumumkan rencananya untuk mengundurkan diri dari perannya sebagai pemimpin politik gerakan Tibet di pengasingan. Ia mengatakan, waktunya telah tiba bagi penggantiannya yang dipilih secara bebas.

Dalai Lama, yang peran lebih pentingnya sebagai pemimpin spiritual gerakan itu, mengatakan, ia akan mengusahakan perubahan untuk memungkinkannya mundur dari tanggung jawab politiknya pada sidang parlemen Tibet di pengasingan, minggu depan. "Keinginan saya untuk memindahkan tanggung jawab itu tidak ada urusannya dengan keinginan untuk mengelak tanggung jawab," katanya dalam pidato di Dharamshala, tempat kedudukan Pemerintah Tibet di pengasingan di India utara. "Itu akan menguntungkan masyarakat Tibet dalam jangka panjang. Itu bukan karena saya merasa berkecil hati," katanya.

Dalai Lama baru berumur 15 tahun ketika ditunjuk sebagai "kepala negara" pada tahun 1950 setelah tentara China menyerbu Tibet. Ia melarikan diri dari tanah airnya itu tahun 1959 setelah pemberontakan yang gagal terhadap pemerintah China. Penerima hadiah Nobel perdamaian berusia 75 tahun itu telah lama berbicara mengenai pengunduran diri dari peran yang sebagian besar seremonial itu, tetapi mempertahankan jabatan lebih pentingnya sebagai pemimpin spiritual gerakan Tibet.

"Sudah sejak 1960-an, saya berulang kali menekankan bahwa rakyat Tibet membutuhkan seorang pemimpin, yang dipilih secara bebas oleh rakyat Tibet, pada siapa saya dapat menyerahkan kekuasaan," katanya. "Sekarang, kita jelas telah mencapai waktu untuk membuat ini berlaku."

Dalam pidato untuk menandai ulang tahun pemberontakan tahun 1959, Dalam Lama menjelaskan bahwa ia tidak akan mundur dari perjuangan politik dan tetap "berkomitmen untuk memainkan bagian saya dalam masalah Tibet yang adil".

Meskipun usianya bertambah dan ada beberapa kekhawatiran tentang masalah kesehatan, Dalai Lama mempertahankan jadwal perjalanan yang padat.

Kesetiaan spiritual dan sekuler pada kepemimpinannya merupakan ketabahan dan ia adalah perekat yang mengikat berbagai kelompok dalam gerakan itu, beberapa dari mereka menyukai agenda yang lebih radikal ketimbang kampanye tanpa kekerasan Dalai Lama untuk memperoleh otonomi dalam negara China. Dalam pidato Kamis, Dalai Lama mengatakan ia telah menerima permintaan "berulang dan sungguh-sungguh" dari dalam dan luar Tibet untuk tetap meneruskan kepemimpinan politik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kampanye Internasional untuk Tibet (ICT) yang bermarkas di London mengatakan, pengumuman Dalai Lama itu menekankan mandat demokratisnya. "Berbeda dengan otokrat yang lama menjabat yang telah banyak dalam berita, Dalai Lama seorang visioner yang jarang ada yang ingin membebaskan rakyatnya," kata Presiden ICT Mary Beth Markey. "Keputusannya, berdasarkan pada kematangan demokrasi Tibet di pengasingan, pantas mendapatkan penghargaan dan dukungan," katanya.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.