Puluhan Tahun Khadafy Gunakan Tentara Bayaran

Kompas.com - 04/03/2011, 04:02 WIB
Editor

Dakar, kamis - Pengalaman selama puluhan tahun mendukung dan melatih tentara perlawanan di berbagai negara di kawasan Afrika Sub-Sahara diduga membuat pemimpin Libya, Moammar Khadafy, mudah mendapatkan tentara bayaran. Kini, sekitar 25.000 tentara bayaran sengaja disewa Khadafy untuk memadamkan perlawanan rakyat yang terjadi di negerinya sendiri.

Dalam laporan yang diterbitkan Kamis (3/3), kantor berita Agence France Presse (AFP) menyebut Khadafy pernah terlibat dalam konflik politik di hampir semua negara Afrika Sub-Sahara, mulai dari Liberia, Sierra Leone, Uganda, Chad, Mali, hingga Zimbabwe.

Kepala Liga Hak Asasi Manusia Libya Ali Zeidan mengatakan, Chad menjadi pemimpin kelompok tentara bayaran, yang terdiri dari warga Niger, Mali, Zimbabwe, dan Liberia, yang mengaku dibayar 300-2.000 dollar AS per hari.

”Sebut sembarang konflik (yang melibatkan) kelompok perlawanan atau seorang despot di Afrika untuk menemukan orang yang pernah ditawari bantuan keuangan, latihan, maupun dukungan oleh pemimpin Libya selama 41 tahun kepemimpinannya,” tulis laporan tersebut.

Khadafy, misalnya, memainkan peran utama dalam memadamkan perlawanan suku Tuareg di Mali dan Niger, Oktober 2009, dengan cara membagi-bagikan uang kepada mereka.

”Paling tidak ada 3.000 orang Tuareg yang gentayangan di alam liar sejak tahun 2009. Jadi, tidak aneh jika sebagian dari mereka kemudian direkrut oleh Khadafy,” tutur seorang sumber di kalangan suku Tuareg yang enggan disebut namanya.

Meski sebagian besar negara tersebut membantah warganya menjadi tentara bayaran di Libya saat ini, beberapa pejabat Pemerintah Mali membenarkan ada ratusan anak muda Tuareg yang direkrut Khadafy.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Abdou Salam Ag Assalat, Presiden Majelis Regional Kidal, sebuah kawasan di timur laut Mali, mengatakan bahwa pemerintah setempat telah berusaha membujuk anak-anak muda ini untuk tidak pergi ke Libya. Namun, usaha itu sangat sulit karena mereka dijanjikan ”dollar dan senjata” begitu tiba di Libya.

Selain di Mali, Khadafy juga tercatat pernah mendukung pasukan Tentara Perlawanan Nasional di Uganda, Front Revolusioner Bersatu (RUF) di Sierra Leone, mantan Presiden Liberia Charles Taylor, dan memberikan bantuan keuangan kepada gerakan perlawanan di Chad. (AFP/DHF)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.