Fatiha, Safia, Galyna

Kompas.com - 01/03/2011, 09:04 WIB
EditorEgidius Patnistik
Oleh: Trias Kuncahyono

 

Hanya ada tiga perempuan—setidaknya—yang tahu luar dalam tentang pemimpin Libya, Moammar Khadafy. Ketiganya mengetahui secara detail sampai ke hal yang sekecil-kecilnya, kebiasaannya, tabiatnya, perilakunya, kesukaannya, dan tentu yang tidak disukainya.

Mereka juga tahu bagaimana caranya menundukkan orang nomor satu di Libya yang sekarang ini sedang disorot masyarakat dunia karena kenekatannya dengan tanpa rasa kemanusiaan membunuhi rakyatnya, dengan meminjam tangan tentaranya dan tentara bayaran upahannya.

Tanyalah kepada mereka mengapa Khadafy sampai begitu tega membunuhi rakyatnya? Tanyalah kepada mereka mengapa Khadafy begitu gila mempertahankan kekuasaannya yang sudah digenggamnya sejak tahun 1969? Tanyakan kepada mereka juga mengapa Pak Kolonel itu—ketika memimpin kudeta tahun 1969, Khadafy berpangkat kapten dan setelah menjadi orang nomor satu di Libya ia memilih pangkat kolonel hingga kini—tidak sadar bahwa rakyatnya (didukung dunia) sudah tidak lagi menghendakinya? Sudah muak.

Tiga perempuan. Ya, mereka itu adalah Fatiha, Safia Farkash, dan Galyna Kolotnytska. Yang dua pertama—Fatiha dan Safia—adalah istri Khadafy. Fatiha adalah istri pertama Khadafy. Ia seorang guru. Dari Khadafy, Fatiha memiliki seorang anak yang diberi nama Muhammad al-Gaddafi (Khadafy) dan menjadi Ketua Komite Olimpiade Libya. Muhammad juga memimpin Perusahaan Pos dan Telekomunikasi dan mengoperasikan telepon seluler serta satelit komunikasi. Perkawinan Khadafy dengan Fatiha tak berumur lama, hanya enam bulan!

Safia adalah istri kedua. Menurut BBC News, dengan Khadafy, Safia memperoleh tujuh anak, antara lain Saif al-Islam, lulusan London School of Economics yang pada awal huru-hara mengatakan akan terjadi ”banjir darah” apabila perlawanan terhadap ayahnya diteruskan. Anak Safia lainnya adalah Khamis Gaddafi yang memimpin pasukan penumpasan demonstrasi rakyat di Benghazi. Safia memiliki dua anak angkat, yakni Milad dan Hanna yang tewas kena bom AS tahun 1986.

Perempuan ketiga adalah Galyna Kolotnytska, seorang perempuan Ukraina. Ia bukan istri Khadafy meski diisukan memiliki hubungan romantis dengannya. Koran Inggris, The Telegraph dan Guardian, menyebut, Khadafy sangat bergantung pada perempuan perawat yang sering disebut sebagai ”si rambut pirang yang menggairahkan” ini. Ke mana pun Khadafy pergi selalu didampingi Galyna (38). Sudah sembilan tahun Galyna mendampingi Khadafy yang kurang percaya kepada perawat atau perempuan Libya sendiri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tetapi, sekarang Galyna sudah meninggalkan Khadafy pulang ke Kiev, Ukraina. Perginya Galyna memperpanjang daftar orang-orang dekat yang memutuskan meninggalkan dirinya. Misalnya, Dubes Libya untuk PBB Abdurrahman Shalgham, Deputi Dubes Ibrahim Dabbashi, Mendagri Jenderal Abdel Fattah Younes al-Abidi, Menkeh Mustafa Abdel-Jalil, Dubes Libya untuk AS Suleiman Aujali, Dubes Libya untuk Perancis Mohamed Salaheddine Zarem, Dubes Libya untuk UNESCO Abdulsalam el-Qallali, Dubes Libya untuk India Ali al-Essawi, dan Wakil Tetap Libya di Liga Arab Abdel Moneim al-Huny.

Khadafy, memang, pantas ditinggalkan. Ia sudah lupa diri. Mabuk kekuasaan. Ada kata-kata bijak yang bunyinya: Honores mutant mores—yang artinya saat manusia mulai berkuasa, berubahlah pula tingkah lakunya. Itulah Khadafy. Mengapa ia begitu? Tanyalah kepada tiga perempuan itu.

Baca tentang


    25th

    Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X