AS Bekukan Aset, PBB Bahas Sanksi

Kompas.com - 27/02/2011, 07:55 WIB
EditorJimmy Hitipeuw

NEW YORK, KOMPAS.com — Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar sidang khusus di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, Sabtu (26/2/2011), untuk membahas sanksi terhadap Libya. Sementara malam sebelumnya, Presiden AS Barack Obama resmi mengeluarkan perintah untuk membekukan seluruh aset Moammar Khadafy dan empat anaknya di AS.

Tiga anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa  (DK PBB), yakni Amerika Serikat (AS), Perancis, dan Inggris, ditambah Jerman telah membuat draf resolusi yang diajukan pada sidang hari Sabtu untuk mendapat persetujuan semua anggota DK PBB. Rancangan resolusi tersebut menyatakan, serangan terhadap warga sipil di Libya bisa terus bertambah untuk dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Draf resolusi tersebut juga menyerukan embargo senjata dan larangan perjalanan ke Libya serta pembekuan aset milik Khadafy dan orang-orang terdekatnya. Ada juga usulan untuk menetapkan wilayah udara di atas Libya sebagai zona larangan terbang guna mencegah penggunaan pesawat tempur militer Libya untuk menyerang para demonstran.

Jumat malam, Presiden Obama menggunakan kekuasaan eksekutifnya untuk memerintahkan pembekuan seluruh aset milik Khadafy dan empat anaknya. Khadafy memiliki empat anak, yakni Seif al-Islam, Khamis, Muatassim, dan Aisha, yang semuanya menyimpan kekayaan dalam jumlah besar di AS.

”Dengan standar apa pun, pemerintahan Moammar Khadafy telah melanggar kepatutan umum dan norma-norma internasional serta harus bertanggung jawab,” kata Obama dalam pernyataan resminya.

Sanksi tersebut dijatuhkan untuk melindungi aset rakyat Libya dari penjarahan oleh rezim yang berkuasa saat ini. Meski demikian, sanksi itu diduga juga bertujuan mendorong orang-orang yang masih loyal kepada Khadafy agar segera membelot.

”Memang sulit, tetapi tujuan (sanksi itu) adalah mendorong para pendukung Khadafy yang masih tersisa untuk berhenti (mendukung Khadafy),” ucap Robert Malley, pengamat dari International Crisis Group kepada The New York Times.

Langkah AS itu diambil setelah semua warga AS di Libya, termasuk para diplomat, berhasil dievakuasi dan Kedutaan Besar AS di Tripoli untuk sementara ditutup.

Langkah pembekuan aset-aset Khadafy sebelumnya juga dilakukan oleh Swiss. Sementara Presiden Perancis Nicolas Sarkozy sudah terang-terangan mendesak Khadafy mundur.

PBB didesak

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X