Perang Saudara Mengancam

Kompas.com - 22/02/2011, 03:05 WIB
Editor

Tripoli, Senin - Libya semakin panas, Senin (21/2), setelah massa demonstran merampas stasiun televisi dan radio pemerintah serta membakar beberapa gedung di Tripoli. Peringatan Saif al-Islam, putra Moammar Khadafy, bahwa Libya bisa terlibat perang saudara jika ayahnya tumbang, diremehkan.

Tripoli, ibu kota negara, mencekam dilanda aksi protes massal. Pada Minggu malam, massa antipemerintah merampas dua lembaga penyiaran pemerintah, yakni stasiun televisi Jamahiriya dan radio Al-Shababia. Massa juga membakar beberapa kantor cabang Komite Rakyat yang merupakan lembaga andalan rezim.

Kekerasan massa terjadi tidak lama setelah Saif tampil di televisi dan memperingatkan rakyat Libya. Saif menawarkan dialog menuju reformasi, penyelesaian krisis, dan terciptanya perdamaian di negara itu.

Saif khawatir perang saudara sudah di ambang pintu jika demonstrasi antirezim ayahnya, Khadafy, terus berlangsung. Ia menuduh kubu oposisi mengobarkan kekerasan. Jika aksi protes massal berujung pada kejatuhan ayahnya, Libya bakal berubah menjadi ”banjir darah”.

”Libya kini berada di persimpangan jalan. Jika kita tidak setuju (dialog) bagi reformasi, seluruh Libya akan berubah menjadi sungai-sungai darah,” katanya.

Calon kuat

Saif al-Islam Khadafy (38) tidak memiliki jabatan politik, tetapi pengaruhnya sangat besar di seluruh negeri. Jauh sebelum pecah aksi protes massal menuntut ayahnya lengser—terinspirasi ”Revolusi Melati” Tunisia dan ”Revolusi Nil” Mesir—Saif sudah digosipkan sebagai calon kuat pengganti ayahnya.

Tahun lalu New York Times menjulukinya sebagai ”wajah ramah Barat dari Libya dan simbol harapan untuk reformasi dan keterbukaan”. Pria bergelar PhD dari London School of Economics ini secara luas dianggap pembuka ekonomi Libya.

Saif juga pernah menuding pemerintahan ayahnya itu teledor dalam menangani perpecahan dalam elite penguasa minyak di negaranya. Tuduhan itu diutarakan Saif saat mengunjungi paviliun Libya di World Expo International Exhibition 2010, Shanghai, China.

Sekalipun Saif sudah memberikan peringatan keras, ribuan demonstran antipemerintah terus melanjutkan aksi protes mereka di Tripoli, Senin. Aksi serupa juga terjadi di Benghazi, kota terbesar kedua di Libya. Bentrokan antara kelompok pengunjuk rasa antipemerintah dan aparat keamanan tidak terhindarkan.

Pemerintah Libya mengatakan, sudah 84 orang tewas selama protes dalam sepekan ini. Namun, pihak aktivis HAM menyebutkan, korban tewas sudah mencapai lebih dari 233 orang dan ratusan orang lagi terluka. Gejolak rakyat Libya ini menuntut pergantian rezim Moammar Khadafy yang sudah berkuasa selama lebih dari 41 tahun.

(AFP/AP/REUTERS/CAL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.