Revolusi di Mesir Bukan Revolusi Islam

Kompas.com - 06/02/2011, 08:24 WIB
EditorErlangga Djumena

KAIRO, KOMPAS.com - Revolusi yang sedang terjadi di Mesir saat ini tidak diprakarsai oleh kelompok Islam Ikhwanul Muslimin ataupun bertujuan membuat revolusi Islam, seperti yang ditakutkan oleh pihak Barat.

Demikian ditegaskan para demonstran, yang hingga Sabtu (5/2/2011) masih menduduki Alun-alun Tahrir di pusat kota Kairo, Mesir, untuk menuntut lengsernya Presiden Hosni Mubarak.

Usama (20), mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Kairo, mengatakan, perkiraan para pengamat di media bahwa kelompok Ikhwanul Muslimin dipastikan akan memegang kekuasaan pasca-Mubarak adalah omong kosong belaka.

”Ikhwanul Muslimin belum tentu memenangi pemilu nanti. Tetapi, mereka mungkin memang akan ikut berperan dalam pentas politik Mesir nanti,” tutur Usama kepada wartawan Kompas, Musthafa Abd Rahman, di Kairo, Sabtu.

Usama juga membantah sinyalemen bahwa Ikhwanul Muslimin memprakarsai dan berperan besar dalam aksi unjuk rasa terbesar menentang Mubarak ini. Menurut dia, generasi muda Mesir bergerak secara spontan melalui jejaring sosial di internet, seperti Twitter dan Facebook, jauh sebelum aksi meletus 25 Januari lalu.

Pernyataan Usama tersebut dibenarkan oleh pemimpin Ikhwanul Muslimin. Juru bicara Ikhwanul Muslimin, Rashad al-Bayoumi, dalam wawancara dengan mingguan Der Spiegel dari Jerman mengatakan, pihaknya sengaja tak ingin menonjol dalam aksi saat ini agar tidak muncul kesan bahwa ini adalah revolusi Islam. ”Ini adalah perlawanan rakyat Mesir,” ujar Bayoumi dalam wawancara yang baru akan diterbitkan utuh hari Senin nanti.

Menurut dia, rezim Mubarak sengaja mendistorsi citra gerakan rakyat Mesir saat ini untuk mendapat dukungan dari dunia internasional. ”(Pihak) Barat tidak mau mendengarkan kami, tetapi kami ini bukan setan. Kami ingin perdamaian, bukan kekerasan. Agama kami bukan agama kejam, Kami menghormati penganut agama-agama lain. Itu prinsip dasar kami,” tutur Bayoumi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ikhwanul Muslimin dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Mesir dan dianggap sebagai organisasi ekstremis Islam oleh sebagian besar orang Barat. Dalam wawancara terpisah dengan majalah yang sama, Senator John McCain dari AS mengatakan, Ikhwanul Muslimin adalah ”kelompok ekstremis yang tujuan utamanya adalah penerapan hukum syariah” di Mesir.

McCain juga menegaskan, melibatkan Ikhwanul Muslimin dalam pemerintahan transisi yang akan dibentuk di Mesir adalah ”sebuah kesalahan besar”. ”Itu adalah kelompok yang antidemokrasi dari atas sampai bawah, terutama menyangkut hak-hak perempuan,” tutur senator dari Partai Republik ini. Tuntutan sama

Pemimpin Ikhwanul Muslimin, Mohammed Badie, menegaskan, pihaknya memiliki tuntutan yang sama dengan seluruh demonstran di Mesir saat ini, yakni mundurnya Mubarak. ”Kami berdiri bersama seluruh kekuatan politik, yang mendukung dialog dengan siapa pun yang ingin melakukan reformasi di negara ini setelah kepergian tiran yang korup dan tak adil ini,” ujar Badie dalam wawancara dengan Al-Jazeera.

Halaman:
Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.