Obama: Mubarak Harus Mundur Sekarang

Kompas.com - 05/02/2011, 11:45 WIB
EditorEgidius Patnistik

WASHINGTON, KOMPAS.com —  Presiden AS Barack Obama, Jumat waktu setempat, menyampaikan petunjuk jelas bahwa Presiden Mesir Hosni Mubarak harus mundur sekarang. Ia mengatakan, seorang "patriot" yang berjiwa besar harus mendengarkan rakyatnya dan membuat "keputusan yang tepat".

Obama tidak secara eksplisit meminta Mubarak mengundurkan diri, tetapi mengatakan, penguasa Arab itu telah membuat lompatan kesadaran psikologis dengan mengakui bahwa pemerintahannya telah surut dan sekarang harus mempertimbangkan kembali posisinya di tengah perlawanan massa rakyat.

Obama menyingkapkan sebuah selubung, saat puluhan ribu demonstran menyelenggarakan "Hari Kepergian" dalam protes besar di Kairo, Jumat, dan Amerika Serikat mencari cara untuk mendorong Mubarak turun setelah 30 tahun berkuasa. "Saya percaya Presiden Mubarak peduli dengan negaranya. Dia berjiwa besar, ia juga seorang patriot," kata Obama. "Apa yang saya sarankan kepadanya adalah, dia perlu berkonsultasi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya dalam pemerintahannya. Dia perlu mendengarkan apa yang disuarakan oleh rakyat Mesir dan membuat penilaian tentang jalan ke depan yang tertib, tetapi itu harus bermakna dan serius."

Gedung Putih tampaknya sangat sensitif terhadap persepsi bahwa AS merekayasa masa depan politik Mesir di daerah yang tengah berdenyut dengan perasaan anti-Amerika itu. Namun, pilihan kata-katanya membuat jelas bahwa desakan Washington untuk transisi politik segera tidak mencakup sekutu cerdiknya itu selama tiga dekade, yang telah menjadi titik tumpu kebijakan AS untuk masalah Timur Tengah.

"Pertanyaan kunci yang harus ia tanyakan kepada dirinya sendiri adalah, 'Bagaimana saya meninggalkan warisan di mana Mesir mampu melewati periode transformatif ini?'" kata Obama. "Harapan saya adalah bahwa dia akhirnya akan membuat keputusan yang tepat."

Di tengah laporan bahwa Washington sedang bekerja dengan sejumlah skenario dengan sejumlah pemain kunci di Kairo yang akan berakibat pada kepergian Mubarak, Obama menekankan bahwa Mesir harus memutuskan masa depan mereka sendiri. Namun, dia mengatakan, dia memahami "beberapa diskusi" sudah berlangsung di Mesir pada satu transisi menuju ke sistem yang akan menghormati hak-hak universal dan mengarah pada pemilihan umum yang bebas dan adil.

Sementara itu, bekas menteri luar negeri Mubarak dan bakal calon presiden masa depan, Ketua Liga Arab Amr Mussa, mengatakan, ia ragu mantan bosnya itu akan mundur dalam waktu dekat.  

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Harian The New York Times melaporkan, Washington telah mendorong sejumlah proposal bagi Omar Suleiman, veteran kepala intelijen Mubarak dan sekarang wakil presiden, untuk memimpin pemerintah transisi. Gedung Putih tidak langsung menyangkal laporan itu dan responsnya mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat mungkin akan mempelajari berbagai pilihan untuk mendorong Mubarak pergi dan meredakan konfrontasi di Kairo.

"Adalah salah untuk melaporkan bahwa ada rencana tunggal AS yang sedang dinegosiasikan dengan orang Mesir," kata seorang pejabat senior Gedung Putih yang tidak mau disebutkan namanya.

Perdana Menteri Mesir Ahmed Shafiq, bagaimanapun, mengesampingkan kemungkinan bahwa Mubarak akan menyerahkan kekuasaan kepada Sulaiman. Di tengah tanda-tanda diplomasi AS sangat intens pada krisis yang dapat memengaruhi kebijakan luar negeri Washington selama bertahun-tahun, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton pergi ke sebuah konferensi keamanan besar di Muenchen dengan persoalan Mesir mewarnai agendanya. Selama penerbangan, ia menelepon Menteri Luar Negeri Mesir Ahmed Abul Gheit dan tetap berhubungan dengan Washington, kata seorang pejabat di Departemen Luar Negeri.

Dia juga berbicara dengan Perdana Menteri Georges Papandreou dari Yunani tentang "situasi saat ini dan transisi yang tertib," kata juru bicara Philip Crowley dalam posting ke situs Twitter. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Robert Gates berbicara melalui telepon dengan Panglima Mesir Mohammed Hussein Tantawi. Pentagon tampaknya berusaha untuk tetap menjaga hubungannya dengan militer Mesir yang secara politis kuat. Selama bertahun-tahun, Mesir telah menjadi penerima bantuan luar negeri terbesar kedua dari AS setelah Israel.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X