Jangan Sampai Terjadi "Jumat Berdarah"

Kompas.com - 28/01/2011, 19:03 WIB
EditorJosephus Primus
KOMPAS.com - Belajar dari pengalaman unjuk rasa pada Kamis (27/1/2011), aparat keamanan Mesir menambah pasokan kekuatan untuk berhadapan dengan jumlah lebih besar pengunjuk rasa pada Jumat (28/1/2011), Informasi dari warta AP dan AFP menunjukkan, demonstrasi dikabarkan meluas lantaran ajakan untuk turun ke jalan itu sudah tersebar melalui internet.

Sebelumnya, pemerintah Mesir mencoba untuk memblokir situs jejaring sosial Facebook dan Twitter yang digunakan untuk menyebar ajakan berunjuk rasa. Tak hanya memblokir internet, layanan 3G dan pesan pendek di telepon genggam pun diganggu.

Selain memblokir sarana komunikasi para pengunjuk rasa, dilaporkan sejumlah penangkapan sudah terjadi. Tak cuma itu, pasukan khusus antiterorisme juga dikerahkan di sejumlah lokasi straregis di Kairo, termasuk di Lapangan Tahrir tempat aksi unjuk rasa sebelumnya digelar.

Menteri Dalam Negeri Mesir bahkan mengancam pemerintah akan mengambil tindakan tegas terhadap para pengunjuk rasa. Pemerintah Mesir menganggap berunjuk rasa menyalahi undang-undang yang berlaku. Andai bentrok terjadi, banyak kalangan mengharapkan agar insiden itu tidak menjadi "Jumat Berdarah" alias makin banyaknya jatuh korban pada saat kejadian.

Dialog

Sementara itu, Partai Demokratik Nasional (NDP) yang berkuasa menyatakan siap berdialog dengan para pengunjuk rasa. "NDP siap berdialog dengan pengunjuk rasa dan partai politik yang legal. Namun, demokrasi memiliki sistem yang harus dipatuhi. Minoritas tidak bisa memaksakan kehendak kepada mayoritas," kata Sekretaris Jenderal NDP Safwat el-Sharif.

Pada bagian lain, sejumlah sumber mengatakan kepala staf keamanan pemerintah berjanji kepada Presiden Hosni Mubarak untuk mengatasi keadaan. Sejak unjuk rasa merebak Selasa (26/1/2011), Presiden Hosni Mubarak (82) belum terlihat di hadapan publik.

Aksi unjuk rasa ini bertujuan menentang Hosni Mubarak yang sudah berkuasa selama 30 tahun. Kelompok oposisi Mesir menganggap pemerintah tidak banyak berbuat menghadapi krisis pangan, tingkat pengangguran yang meroket, dan korupsi.

Tokoh oposisi yang juga peraih Nobel Mohammad el-Baradei dikabarkan sudah tiba di Kairo untuk bergabung bersama para pengunjuk rasa menentang pemerintah. Aksi unjuk rasa terinspirasi dari gerakan serupa di Tunisia itu sudah mengakibatkan tujuh orang tewas.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.