PM Ghannouchi Berjanji Mundur

Kompas.com - 22/01/2011, 22:02 WIB
EditorJosephus Primus

KOMPAS.com — Perdana Menteri Tunisia Mohamed Ghannouchi sudah membulatkan tekadnya. Dalam wawancara dengan televisi sebagaimana warta AP dan AFP pada Sabtu (22/1/2011), ia mengatakan akan keluar dari dunia politik setelah pemilihan umum setelah lengsernya Presiden Zine al-Abedine Ben Ali.

Pemerintah transisi pimpinannya telah berjanji akan mengadakan pemilihan umum dalam waktu enam bulan. Namun, hingga sekarang, Ghannouchi belum menetapkan tanggal.

Ben Ali melarikan diri ke Arab Saudi pada 14 Januari 2011. Para pengunjuk rasa mengatakan, seluruh tokoh politik yang terkait dengan rezim lama harus mundur.

Ghannouchi merupakan sekutu penting mantan presiden yang disingkirkan itu, dan pemerintah baru pimpinannya kesulitan menegakkan ketertiban di Tunisia. Dalam wawancara tersebut, dia mengatakan akan mundur dari dunia politik setelah pemilu dan berjanji kabinet transisi akan menghapus seluruh peraturan antidemokrasi.

Dia menambahkan bahwa selama di bawah kekuasaan Ben Ali, dia hidup dalam ketakutan, seperti warga Tunisia lainnya. Setidaknya 78 orang tewas sejak terjadi gelombang protes yang dimulai akhir Desember tahun lalu.

Bersih

Ghannouchi telah keluar dari Partai RCD pimpinan Ben Ali dan pemerintah sementara memerlukan "tangan bersih". Namun, dia juga mengatakan bahwa transisi ke arah demokrasi memerlukan para politikus berpengalaman.

Sementara itu, serikat buruh terbesar Tunisia, UGTT, meminta pemerintah baru yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan rezim yang disingkirkan. Wakil Ketua UGTT mengatakan, pemerintah pengorbanan nasional seperti itu sejalan dengan tuntutan warga yang berdemonstrasi di jalan dan partai-partai politik.

Sehari setelah kabinet terbentuk, empat menteri dari kubu oposisi mundur karena masalah itu. Kabinet sementara berjanji membebaskan seluruh tahanan politik dan mengatakan kelompok politik yang sebelumnya dilarang kini sah.

Pihak berwenang juga mengumumkan 33 sanak keluarga Ben Ali telah ditahan. Menurut Menteri Dalam Negeri Ahmed Friia, salah satunya adalah Imed Trabelsi, keponakan istei Ben Ali, yang sebelumnya dilaporkan tewas ditusuk.

Ghannouchi juga mengatakan bahwa Tunisia akan memberi ganti rugi kepada korban penyiksaan pemerintah Ben Ali.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X