Gerilyawan Lawan Tentara Sudan, 21 Tewas

Kompas.com - 22/01/2011, 02:29 WIB
Editoryuli

KHARTOUM, KOMPAS.com — Pasukan Sudan bentrok dengan gerilyawan dari dua kelompok di wilayah Darfur selama empat jam hingga menewaskan 21 orang.

"Kami membunuh 13 anggota JEM dan SLA... dan kami juga kehilangan delapan prajurit angkatan darat Sudan," kata juru bicara militer Sudan, Al-Sawarmi Khaled, Jumat (21/1/2011). JEM adalah akronim organisasi gerilyawan bernama Gerakan Keadilan dan Persamaan Hak, sedangkan SLA adalah Tentara Pembebasan Sudan (SLA) yang setia kepada Minni Minnawi.

Menurut militer, gerilyawan kedua organisasi itu menyerang pasukan di jalan antara Nyala, ibu kota Negara Bagian Darfur Selatan, dan El Fasher, ibu kota Negara Bagian Darfur Utara, pada Kamis malam.

Dari kedua kelompok gerilya itu, belum ada yang bisa dihubungi untuk diminta komentar mereka. JEM dan SLA mengangkat senjata melawan Pemerintah Sudan di Darfur pada 2003 dengan menuduh mereka mengabaikan wilayah barat Sudan yang terpencil tersebut.

PBB mengatakan, lebih dari 300.000 orang tewas sejak konflik meletus di wilayah Darfur pada 2003, ketika pemberontak etnik minoritas mengangkat senjata melawan pemerintah yang didominasi orang Arab untuk menuntut pembagian lebih besar atas sumber-sumber daya dan kekuasaan. Pemerintah Khartoum menyebut jumlah kematian hanya 10.000.

Maju-mundur proses damai antara kedua pihak berlangsung sejak 2009. Pemberontak utama Darfur mengadakan dua babak perundingan dengan para pejabat Pemerintah Khartoum di Qatar pada Februari dan Mei 2009.

Pada Februari 2009, JEM menandatangani sebuah perjanjian dengan pemerintah Khartoum mengenai langkah-langkah pembangunan kepercayaan yang bertujuan mencapai perjanjian perdamaian resmi.

Pada Mei 2009 JEM sepakat memulai lagi perundingan dengan Khartoum yang dihentikannya setelah pengadilan internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Presiden Sudan Omar Hassan al-Bashir karena kejahatan perang dan kejahatan atas kemanusiaan di Darfur, Sudan barat.

Perundingan antara Pemerintah Khartoum dan pemberontak Darfur untuk mengatasi konflik tersebut telah ditunda beberapa kali pada tahun itu.

Perundingan yang dituanrumahi Qatar tersebut sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 28 Oktober 2009, tetapi pertemuan itu ditunda sampai 16 November 2009 karena waktunya bertepatan dengan pertemuan puncak Uni Afrika. Jadwal terakhir itu pun ditunda hingga waktu yang belum ditentukan, kata penengah PBB dan Uni Afrika.

Kegagalan perundingan telah mengarah pada peningkatan kekerasan di Darfur. Bentrokan-bentrokan di wilayah tersebut menewaskan 221 orang pada Juni 2010, sebagian besar akibat pertikaian suku-suku Arab yang bersaing, kata misi penjaga perdamaian PBB dan Uni Afrika (UNAMID). Pada Mei 2010, hampir 600 orang tewas dalam pertempuran, menurut sebuah dokumen internal UNAMID.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.