Sssst.... UI Balas Surat ICW

Kompas.com - 10/01/2011, 17:13 WIB
EditorLatief

DEPOK, KOMPAS.com - Universitas Indonesia (UI) menjawab permintaan Indonesia Corruption Watch (ICW) dengan mengirimkan surat balasan, Senin (10/1/2011), terkait penetapan biaya pendidikan mahasiswa UI. UI menggunakan dasar hukum yang tertuang di PP-152, yaitu pada pasal 37 ayat (4) diatur bahwa Tata Cara Pengelolaan Keuangan Universitas ditetapkan oleh Majelis Wali Amanat (MWA).

Kepala Kantor Komunikasi UI Vishnu Juwono mengungkapkan, di dalam MWA terdapat unsur-unsur yang terdiri dari Menteri Pendidikan Nasional mewakili Pemerintah, perwakilan Staf Pengajar (Dosen Guru Besar maupun Non-Guru Besar) yang tergabung dalam Senat Akademik Universitas, perwakilan masyarakat, perwakilan karyawan UI, perwakilan dari unsur mahasiswa, serta Rektor selaku perwakilan dari pihak manajemen universitas.

"UI telah melaksanakan kewajibannya selama ini dalam memberikan laporan keuangnnya kepada mahasiswa dan masyarakat melalui perwakilannya di MWA," papar Vishnu.

Vishnu menuturkan, pada 2008 lalu hasil mekanisme penghitungan bersama yang dilakukan oleh segenap perwakilan sivitas akademika UI, termasuk elemen mahasiswa yang diwakili oleh Badan Eksekutif Mahasiswa UI dan Fakultas, UI menetapkan biaya pendidikan berdasarkan Standart Unit Cost (SUC) per mahasiswa untuk Program Sarjana Bidang Eksakta sekitar Rp 27.000.000 per semester, sedangkan untuk Program Noneksakta Rp 18.000.000 per semester, fakultas kedokteran dan kedokteran gigi sebesar Rp 58.000.000 per semester.


"Kami menyadari beban SUC biaya pendidikan tersebut masih terlalu besar sehingga UI hanya membebankan sepertiga dari total biaya pendidikan itu kepada mahasiswa, sedangkan selebihnya yang sebesar dua pertiga menjadi tanggung jawab UI dan pemerintah," kata Vishnu.

Untuk itu, mahasiswa UI saat ini dibebankan biaya pendidikan sesuai penetapan biaya pendidikan standar (BP Standar), yakni sebesar Rp 7.500.000 per semester dan Uang Pangkal sebesar Rp 25.000.000. Biaya tersebut dibayarkan hanya satu kali dalam masa pendidikan untuk bidang eksakta. Sementara untuk bidang noneksakta dikenakan Rp 5.000.000 per semester dan Uang Pangkal Rp 10.000.000 yang dibayarkan hanya satu kali dalam masa pendidikan.

"BP Standar merupakan pedoman biaya pendidikan yang dibayarkan oleh mahasiswa yang berasal dari keluarga yang memiliki kemampuan keuangan membayar sebesar itu," ungkapnya.

Vishnu mengatakan, pihak UI menyadari bahwa variasi kemampuan keuangan keluarga mahasiswa sangat beragam, mulai dari rentang yang sangat mampu hingga yang tidak mampu. Oleh karenanya, lanjut dia, UI memberlakukan sistem Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan (BOP Berkeadilan) khusus untuk untuk mahasiswa S-1 reguler.

Sebelumnya diberitakan, ICW mendatangi Rektorat Universitas Indonesia (UI), Kamis (16/12/2010) lalu, untuk mengetahui transparansi perhitungan, penetapan, dan pengelolaan dana mahasiswa dan dana kampus. Kedatangan ICW dipicu oleh aduan mahasiswa yang merasa UI tidak transparan dalam penetapan standar unit cost untuk mahasiswa.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Internasional
Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Internasional
Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Internasional
Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Internasional
Trump Marah Disebut Beri 'Lampu Hijau' untuk Serangan Turki ke Suriah

Trump Marah Disebut Beri "Lampu Hijau" untuk Serangan Turki ke Suriah

Internasional
Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Internasional
Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Hari Kiamat' Memakai 'Bahasa Khayalan'

Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Hari Kiamat" Memakai "Bahasa Khayalan"

Internasional
AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Kiamat', Pria Austria Ditahan

Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Kiamat", Pria Austria Ditahan

Internasional
Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda 'Menanti Kiamat' | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda "Menanti Kiamat" | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

Internasional
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Internasional
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Internasional
Beralasan 'Menanti Kiamat', Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Beralasan "Menanti Kiamat", Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Internasional
Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X