Kematian Taseer dan Masa Depan Pakistan

Kompas.com - 09/01/2011, 03:04 WIB
Editor

Seorang pegawai pengelola administrasi di sebuah universitas di Karachi, Pakistan, Muqtida Mansoor (60), sedikit bernostalgia tentang masa kecilnya. Nostalgia, terutama soal betapa toleran dan bebasnya negerinya di kala itu.

Satu kali pernah, ujarnya, salah seorang guru sekolahnya melempar isu. Tak satu pun buku di dunia ini yang sempurna. Muqtida kecil lalu bertanya, apakah itu artinya juga termasuk kitab suci?

Pertanyaan itu lalu oleh sang guru dikembangkan menjadi sebuah diskusi yang produktif soal agama.

”Akan tetapi, jangan harap hal serupa sekarang bisa terjadi. Apalagi jika seseorang bisa kapan pun dan di mana saja menembakmu di luar sana karena bertanya atau berdiskusi seperti itu,” ujar Muqtida.

Muqtida mengacu pada pembunuhan sadis yang baru saja terjadi awal pekan lalu. Pembunuhan brutal yang menimpa tokoh politik moderat Pakistan, juga Gubernur Punjab, Salman Taseer (66). Akibat kejadian itu, banyak kalangan merasa Pakistan saat ini tengah berada di tepi jurang perpecahan.

Pembunuhan Taseer adalah pembunuhan terhadap tokoh high profile kedua yang terjadi di sana setelah kejadian serupa menimpa mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto, 27 Desember dua tahun lalu.

Taseer diberondong 29 butir peluru mematikan, yang dimuntahkan dari sepucuk senjata oleh pengawal pribadinya, seorang anggota pasukan elite kepolisian Pakistan, Malik Mumtaz Hussein Qadri. Peluru menghunjam hampir di seluruh bagian tubuh Taseer.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pembunuhan brutal nan sadis seperti itu tentu saja juga sekaligus mengirimkan sebuah pesan mengerikan yang sangat jelas dan kuat kepada seluruh rakyat Pakistan, terutama kepada mereka yang masih mencoba bersikap moderat dan toleran, seperti juga sejak awal dicita-citakan para pendiri negeri itu.

Pembunuhan Taseer mengirimkan sebuah pesan yang jelas dan mengerikan, kelompok radikal dan para pendukungnya bisa melakukan apa saja demi mempertahankan pandangan mereka, terutama jika ada pihak, kelompok, atau orang tertentu yang mereka nilai telah menodai agama dan simbol-simbolnya.

Pembunuhan oleh Qadri memang sekaligus juga semakin ”memberi angin” kepada para kelompok dan tokoh radikal di negeri itu. Mereka seolah-olah menunjukkan mampu berbuat apa saja dan kepada siapa saja, yang dianggap menghalangi keyakinan mereka.

Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X