Natal Berdialek Ambon, Lucu tapi Menarik

Kompas.com - 21/12/2010, 07:11 WIB
Editoryuli

AMBON, KOMPAS.com — Pengurus Sekolah Minggu Tunas Pekabaran Injil Kumatu-Jemaat GPM Rehobot Klasis Pulau Ambon merayakan Natal tahun ini dengan prosesi menggunakan dialek Ambon.

"Konsep ini salah satu upaya kami untuk menanamkan kecintaan anak kepada budaya daerah sendiri," kata Ketua Sekolah Minggu Tunas Pekabaran Injil (SMTPI) Kumatu Nita Siahaya.

Ia mengatakan, pengaruh pergaulan, tayangan televisi, ataupun media audio-visual lain cukup kuat menggeser budaya Maluku, termasuk dialek Ambon.

Siahaya mengakui ada sedikit kejanggalan untuk menempatkan dialek Ambon ke dalam sebuah acara resmi seperti perayaan Natal, tetapi hal itu dikatakannya sebagai masalah kebiasaan saja.

"Mungkin karena kita kurang terbiasa, apalagi dialek Ambon pada umumnya terkesan kasar dan hanya digunakan dalam percakapan sehari-hari," katanya.

Liturgi perayaan Natal tersebut, kata dia, menggunakan lima lagu Kidung Jemaat (KJ) tetapi liriknya diubah ke dalam dialek Ambon, yang pembuatannya menghabiskan waktu tidak kurang dari satu minggu.

Selain dialek Ambon, enam guru SMTPI Kumatu juga tampil menggunakan kebaya modern untuk memperkuat konsep perayaan yang dimaksud. "Kami ingin tampil beda kali ini dengan mengangkat konsep keambonan," katanya singkat.

Dia menambahkan, unsur cinta Indonesia juga ditampilkan melalui prosesi penyalaan lilin Natal oleh tujuh anak, yang mengucapkan ayat-ayat Alkitab dalam bahasa suku-suku tertentu sesuai dengan busana daerah yang dikenakan.

Tujuh daerah tersebut adalah Batak (Sumatera Utara), Dayak (Kalimantan Timur), Jawa, Bali, Makassar (Sulawesi Selatan), Ambon (Maluku) dan Papua Barat.

Michelle Pentury (9), salah seorang anak yang diberi tugas menyalakan lilin Natal dengan mengenakan baju adat Makassar, mengaku senang bisa berpartisipasi sebagai pendukung acara.

"Walaupun saya orang Ambon, senang sekali saya baru memakai baju adat sebagus ini. Ayat Alkitab dalam dialek Makassar pun mudah dihafal," katanya.

Mengenai liturgi (tata ibadah) dalam dialek Ambon, kata Michelle, sangat mengasyikkan. "Agak lucu tapi menarik, terutama untuk lagu-lagu Kidung Jemaat yang sudah diubah," kata siswa kelas III SD Xaverius 1A Ambon itu.

Perayaan Natal itu dihadiri sedikitnya 100 anak SMTPI Kumatu. Mereka terdiri dari empat jenjang didik: TK (balita), anak kecil (7-9), anak tanggung (10-12), dan remaja (13-15). Tema Natal yang diusung adalah "Imanuel-Allah Sertai Katorang" (Imanuel-Allah Menyertai Kita).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.