Militer Siap Menang

Kompas.com - 06/11/2010, 03:19 WIB
Editor

Yangon, Jumat - Myanmar akan memberikan suara untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, Minggu (7/11), dalam sebuah pemilu di mana partai-partai dukungan militer bisa dipastikan menang. Namun, pemilu itu juga menimbulkan harapan tipis akan perubahan di salah satu negara paling terisolasi di dunia itu.

Akhir pemerintahan langsung militer yang diatur dengan saksama itu memasuki tahap akhir dalam lomba yang terutama di antara dua partai dukungan tentara.

Pemilu yang pertama kali dilakukan sejak pemilu 1990 yang diabaikan oleh militer setelah wakil-wakilnya dikalahkan itu dijuluki sebagai sebuah ”pemilu para jenderal” dan dikritik sebagai peralihan kekuasaan secara resmi junta itu pada diri sendiri.

”Mereka akan mempertahankan status quo dan hanya memerlukan mayoritas kecil untuk melakukan itu,” kata Win Min, seorang akademisi Myanmar di pengasingan yang juga ahli mengenai militer negara itu. ”Yakinlah bahwa para jenderal itu ingin menang dan mereka ingin menang besar.”

Partai Uni Solidaritas dan Pembangunan (USDP) adalah kendaraan politik utama militer, mengajukan 27 menteri yang masih menjabat ditambah jenderal-jenderal yang baru saja pensiun dan mengakui mempunyai 18 juta anggota di antara 28 juta pemilih.

USDP telah mendominasi kampanye dan mengajukan 1.112 calon untuk 1.158 kursi yang diperebutkan. Satu-satunya tantangan datang dari Partai Persatuan Nasional (NUP), sebuah wahana lain bagi militer, yang mengajukan 980 kandidat.

Menambah mulus jalan bagi militer untuk menguasai parlemen, ada kuota 25 persen kursi untuk para jenderal di semua majelis. Itu artinya salah satu partai dukungan militer itu hanya perlu memenangi 26 persen dari sisa kursi agar militer bisa menguasai parlemen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ada 35 partai lain yang berjuang mendapat tempat di parlemen nasional dua dewan dan 14 dewan perwakilan daerah itu. Tak satu pun dari 35 partai itu yang mengajukan cukup calon untuk menang atau bisa menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam politik.

Namun, beberapa kandidat berharap bahwa mungkin pemilu itu bisa menandai mulainya sebuah era baru di Myanmar.

”Kami tidak percaya ini sebuah pemilu yang jujur dan adil,” kata Phone Win, pendiri sebuah organisasi bantuan yang mengajukan diri sebagai kandidat independen di Yangon. ”... Ini mungkin bisa benar-benar mengubah Myanmar atau mungkin juga tidak.”

”Pemilu ini, dengan kekurangannya, bisa menjadi sebuah katalis,” tulis Derek Tonkon, seorang ahli Myanmar dan mantan Dubes Inggris untuk Thailand. ”Jalan buntu ini harus ditembus dan Barat telah kehabisan gagasan.”(Reuters/AP/AFP/DI)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.