Australia Cegah Punahnya Bahasa Aborigin

Kompas.com - 29/10/2010, 03:17 WIB
EditorJodhi Yudono

SYDNEY, KOMPAS.com — Lorraine Injie tersenyum ketika ia mengingat bahasa Aborigin yang kaya, yang digunakan semasa kecilnya di wilayah terpencil Pilbara, Australia. "Dalam komunitas saya, hal biasa bila berbicara 10 bahasa. Jadi, jika berbicara tiga tidak luar biasa kesannya," kata Injie.

Kendati demikian, penggunaan bahasa ibu itu telah menurun hingga mencapai taraf yang mengkhawatirkan, dari ratusan orang yang menggunakannya pada 200 tahun lalu saat kedatangan koloni Eropa. Kini pengguna bahwa itu tinggal 20 orang saja.

"Di sana hanya terdapat kurang dari 50 orang bertutur bahasa Banyjima. Begitu pula kurang dari 10 pengguna bahasa Yinhawangka. Karena pernah dilarang menggunakan bahasa-bahasa asli kami, membuat bahasa-bahasa tersebut punah. Sungguh menyedihkan," kata Injie.

Injie (48) adalah salah seorang yang terlibat dalam program yang mencoba mencegah kepunahan bahasa-bahasa tersebut melalui pelatihan guru, yang akan dapat diteruskan kepada anak-anak sekolah.

Enam kali dalam setahun ia meninggalkan Port Hedland, di Australia Barat, dan terbang hingga ribuan kilometer untuk bergabung dengan tiga perempuan pribumi selama sepekan di Koori Centre, Universitas Sydney.

Dalam sebuah ruangan beserta peta yang tergantung di dinding, menggambarkan penyebaran bahasa asli, tempat para perempuan tersebut menjalani program master untuk pendidikan bahasa-bahasa pribumi.

Setelah mereka lulus program master, mereka bertiga sama-sama merencanakan akan memperkenalkan pelajaran bahasa tersebut di sekolah-sekolah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Injie mengetahui bahasa Banyjima dan Yinhawangka, yang ia cakapkan semenjak kecil bersama orangtuanya. Bahasa Inggris dipelajarinya ketika ia menginjak dewasa.

Pada akhir abad ke-18, ketika para koloni mulai berdatangan dari Inggris, warga pribumi Australia dapat berbicara hingga 250 bahasa berbeda, bersama dengan 500 hingga 600 dialek.

Akan tetapi, kebijakan untuk memisahkan anak keturunan Aborigin dari keluarganya untuk kemudian berasimilasi dengan warga kulit putih, menciptakan "Perampokan Generasi", membinasakan bahasa dan budaya asli pada abad belakangan.

Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X