Sejumlah Pendukung Liu Xiaobo Menghilang

Kompas.com - 16/10/2010, 03:05 WIB
Editor

BEIJING, JUMAT - Seminggu setelah penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian kepada pegiat demokrasi China, Liu Xiaobo, sejumlah aktivis di Negeri Tirai Bambu itu, terutama mereka yang menyatakan dukungan secara terang-terangan kepada Liu, justru mengalami kekerasan, ancaman, perlakuan kasar, pelecehan, penahanan, dan bahkan dilarang keluar rumah oleh pihak otoritas China.

Sejumlah orang malah dilaporkan menghilang, seperti terjadi pada aktivis pegiat demokrasi China lain, Ding Zilin, yang oleh istri Liu Xiaobo, Liu Xia, tidak diketahui keberadaannya.

Ding adalah seorang ibu yang kehilangan anaknya dalam peristiwa Lapangan Tiananmen tahun 1989, yang menewaskan ratusan orang, setelah aparat militer China menyerang kerumunan pengunjuk rasa ketika itu. Ding bertahun-tahun memperjuangkan agar Pemerintah China mengakui kematian ratusan pengunjuk rasa tersebut sebagai tanggung jawab mereka. Ding juga mendirikan perkumpulan Para Ibu Tiananmen, yang terdiri atas mereka yang kehilangan anak-anaknya dalam peristiwa itu.

Akibat kegigihan perjuangannya itu, Liu Xiaobo bahkan menyatakan Ding layak menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Sebelumnya aparat keamanan China memang memperingatkan Ding untuk tidak menerima wawancara. Dia sudah tidak bisa lagi dihubungi melalui telepon selulernya sejak Jumat (15/10).

”Terakhir saya berbicara dengannya tanggal 8 Oktober lalu saat Liu Xiaobo diumumkan sebagai peraih Nobel Perdamaian. Kami merasa gembira ketika itu. Kami sangat takut dia dibawa pergi. Saat dia ditahan dahulu dia sempat menelepon. Namun, bagaimana kalau kali ini hal lebih buruk terjadi kepadanya?” ujar salah seorang anggota gerakan Para Ibu Tiananmen, Xu Jue, dengan cemas.

Tak berani bicara

Target intimidasi lainnya adalah mereka yang ikut menandatangani Piagam 08 bersama Liu Xiaobo, yang berisi tekanan terhadap pemerintah untuk memberikan kebebasan lebih besar kepada rakyat China. Piagam itu memenjarakan Liu karena dituduh subversi, yang juga kemudian membawanya masuk dalam daftar calon penerima Nobel Perdamaian.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Maafkan saya, sebetulnya ada banyak yang ingin saya ceritakan, tetapi saya tidak berani bicara. Saya sudah berkali-kali didatangi polisi. Mereka yang ikut menandatangani piagam menjadi perhatian polisi. Saya harap Anda paham kondisi saya,” ujar penulis sekaligus penanda tangan Piagam 08, Zhao Shiying, Kamis lalu.

Sementara itu, sejumlah aktivis lain dilaporkan menerima teror per telepon saat mempersiapkan surat terbuka untuk Pemerintah China supaya membebaskan Liu. Menurut salah seorang penyusunnya, Xu Youyu, surat itu telah ditandatangani lebih dari 120 orang, termasuk aktivis terkenal dan jurnalis.

Kekerasan lain dilaporkan juga menimpa rekan Liu Xiaobo, sesama aktivis pada peristiwa Lapangan Tiananmen, Zhou Duo. Dia mengaku ditahan di rumahnya sejak 9 Oktober seusai merayakan kemenangan Liu. Polisi berkali-kali mengancam para aktivis agar tidak memanfaatkan momen kali ini untuk berbuat onar. (AFP/DWA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.