Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masih Bersemangat Harakiri

Kompas.com - 22/09/2010, 03:58 WIB

WBO Asia Pacific Championship Superfight di GOR Flobamora, Oepoei, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (18/9), seakan menjadi pesta rakyat Kupang. Ribuan penonton menikmati pertandingan tinju yang diselingi pentas dangdut. Hati kian bersorak saat tiga putra daerah membawa pulang sabuk juara WBO, tetapi apa yang tersisa seusai pesta?

Tiga sabuk WBO dari kelas terbang mini, terbang yunior, dan bantam yunior melingkar di pinggang para petinju Indonesia. Tiket yang dilepas seharga Rp 50.000 dibeli 3.500 penonton dan Rp 1 juta untuk 1.500 penonton kelas VIP. Kalaupun ludes, penghasilan dari tiket hanya Rp 1,675 miliar.

Padahal, perhelatan besar yang dimeriahkan pesta kembang api ini ditaksir menghabiskan uang Rp 2,2 miliar.

Meski berjudul profesional, sebenarnya sulit mengharapkan profesional sebenar-benarnya. Itu lantaran setiap menggelar laga, promotor harus terus menjebol kantong sendiri.

Damianus Wera salah satunya. Terhitung sejak tahun 2010 pria asal Palue, Sikka, NTT, ini sudah menghelat tiga kejuaraan tinju internasional. Yang pertama di Denpasar, Bali, menelan biaya sekitar Rp 800 juta, kedua di Batam, Kepulauan Riau, hampir 2 miliar, dan yang teranyar di Kupang, pekan lalu.

Untuk menekan biaya, Damianus selalu mendapat bantuan dari sebuah maskapai penerbangan yang membiayai tiket pesawat pergi dan pulang. Tetapi, biaya selebihnya berasal dari koceknya yang berprofesi sebagai penyembuh tradisional.

Damianus yang mendirikan Sasana Rokatenda mengakui bahwa dunia tinju yang dia geluti tidak menguntungkan. ”Dari dulu saya merugi terus. Tapi saya cinta tinju, jadi tidak mengapa,” katanya.

Harakiri

Rasa cinta memang dibutuhkan untuk menggerakkan olahraga. Beberapa kasus di negeri ini menunjukkan bahwa pengurus yang hanya menumpang hidup di organisasi olahraga hanya menjadi parasit.

Namun, di sisi lain rasa cinta berlebihan bisa berujung pada harakiri alias bunuh diri. Ongkos besar untuk menggelar tinju, misalnya, seharusnya bisa menghasilkan output yang lebih besar. Profit itu yang sedianya menopang kehidupan para petinju agar bisa menyiapkan amunisi untuk pertarungan selanjutnya.

Ambil contoh di Jawa Timur yang pada era keemasannya melahirkan Hengky Gun, Yani Hagler Dokolomo, M Rachman, Monod, Nurhadi, Wongso Indrajit, sampai Yani Malhendo.

Di masa itu (alm) Herry ”Aseng” Sugiarto seakan menjadi dewa dunia tinju. Dari tangannya sabuk demi sabuk melingkar di pinggang petinju negeri ini. Setelah dia meninggal sasana pun rontok, termasuk Sawunggaling milik Setijadi Laksono yang menjadi salah satu barometer tinju nasional.

Dunia tinju pun lesu darah dan tidak laku dijual. Para mantan petinju tersebar dan terlupakan. Ada yang mencoba peruntungan menjadi wirausahawan, politisi, satpam, tukang pukul, penyanyi di kapal laut, juga petani seledri di sebuah desa nun jauh di Kabupaten Malang. ”Apa yang didapatkan petinju menghilang begitu saja, uang cepat datang tetapi cepat hilang,” kenang Yani Malhendo.

Sebagai petinju yang dibesarkan di era Sawunggaling, Yani meyakini empat elemen yang menjadi penggerak dunia tinju. ”Promotor, pemerintah, sponsor, dan petinju, kalau semuanya berjalan, tinju profesional bisa hidup,” katanya.

Saat ini elemen promotor dan petinju masih tetap ada dan terpenuhi. Peran pemerintah untuk mempermudah akses dan perizinan masih belum total dan sokongan sponsor bisa dikata masih sangat minim. ”Siapa yang mau membiayai pertandingan tinju kalau tidak ada untungnya,” tanya Yani. (MARIA SERENADE SINURAT)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terpopuler

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com