Satu Partai Oposi Mesir Boikot Pemilu

Kompas.com - 15/09/2010, 09:25 WIB
EditorEgidius Patnistik

KAIRO, KOMPAS.com — Ghad, partai oposisi Mesir, Selasa (14/9/2010), menyatakan, pihaknya akan bergabung dengan Mohamed ElBaradei untuk memboikot pemilihan perlemen November mendatang.

Pekan lalu, mantan Kepala Nuklir PBB, Mohamed ElBaradei, calon potensial untuk presiden, mengatakan, pemilihan akan dicurangi dan siapa pun yang ikut serta akan bertentangan dengan kemauan nasional.

Boikot terhadap pemilihan anggota parlemen dapat menaikkan pamor bagi pemungutan suara presiden pada tahun 2011, kata para pengamat. Hosni Mubarak (82) tak mengatakan apakah ia akan mencalonkan diri lagi, tetapi banyak warga Mesir percaya ia akan mencoba mengajukan anaknya, Gamal (46), untuk berkuasa jika presiden Mesir itu tak ikut.

Baik bapak maupun anaknya telah menafikan rencana suksesi, tetapi para pejabat dari partai yang berkuasa telah menyambut usaha Gamal dan Mubarak. "Kami menghormati pandangan ElBaradai dalam pemboikotan," kata ketua Ghad, Ayman Nour, setelah partainya memutuskan tak ikut serta. "Orang ini menaruh perhatian besar pada proses perubahan dan kami menghormatinya."

Nour berkompetisi melawan Presiden Hosni Mubarak pada pemilihan presiden tahun 2005 dan menduduki posisi kedua. Ia dijebloskan ke penjara beberapa saat setelah pemungutan suara itu karena menyerahkan dokumen palsu ketika membentuk Ghad.

Ia mengatakan, tuduhan-tuduhan tersebut berlatar belakang politik. Partai Ghad yang liberal berharap persatuan oposisi atas pemungutan suara itu akan menurunkan legitimasi partai berkuasa tersebut. Wakil-wakil gerakan Kefaya dan partai komunis bergabung dengan Ghad pada pertemuan Selasa.

Wael Nawara, pendiri lain Partai Ghad, kepada wartawan mengatakan, "Kami akan langgar peraturan permainan ini dan memberlakukan peraturan baru. Kami akan bentuk satu parlemen baru dan satu konstitusi baru."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seruan-seruan untuk memboikot pemilu November itu semakin kencang setelah satu pemungutan suara di majelis tinggi pada Juni menunjukkan, partai yang berkuasa pimpinan Mubarak merebut sebagian besar kursi. Kelompok-kelompok kanan mengeluhkan kecurangan, sementara pemerintah menyatakan, pemungutan suara itu berlangsung adil.

Namun, kelompok oposisi Mesir masih terpecah dengan Ichwanul Muslimin, blok oposisi terbesar dengan 88 kursi di parlemen, dan partai nasionalis Wafd, yang liberal, yang menyatakan mereka akan berperan serta dalam pemilihan umum.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.