Fidel Castro: Saya di Ambang Kematian

Kompas.com - 31/08/2010, 07:12 WIB
EditorEgidius Patnistik

KOMPAS.com — Fidel Castro mengaku berada "di ambang kematian" ketika dipaksa menyerahkan kekuasaan empat tahun lalu. Ia mengatakan, dirinya lemah, sangat kurus dan berpikir, pada saat itu, bahwa dia tidak bisa melanjutkan kekuasaannya.

Castro renta kembali ke hadapan publik Juli lalu setelah hampir empat tahun berada dalam bayang-bayang. Ia memanfaatkan kemunculannya untuk memperingatkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Israel lawan Iran telah membawa dunia ke ambang perang nuklir.

Pria 84 tahun itu telah berbicara kepada para wartawan dari media Kuba yang sangat dikuasai negara, tetapi hanya sekali duduk dengan wartawan asing. Dalam wawancara selama lima jam dengan media Meksiko, La Jornada, Castro mengatakan bahwa selama sakit, berat badannya turun banyak, tinggal 66,6 kg, sangat kurus untuk seorang dengan tinggi 190 cm seperti dia dan dikenal karena posturnya yang besar. Namun, sekarang ia pulih dan berat badannya telah mencapai 82 kg.

"Saya tidak bercita-cita untuk hidup lebih lama lagi," kata Castro. "Saya bertanya pada diri sendiri beberapa kali apakah orang-orang (para dokter) ini membiarkan saya hidup dalam kondisi ini atau apakah mereka akan mengizinkan saya mati."

Pemerintah tidak pernah mengatakan secara resmi apa penyakit yang diderita Castro ketika ia jatuh sakit pada Juli 2006, meskipun banyak dilaporkan bahwa ia menderita komplikasi yang mencakup divertikulitis, suatu penyakit usus yang umum pada orang tua. Dia mengatakan pada masa lalu bahwa ia menjalani beberapa pembedahan dan menyebutkan hal itu lagi dalam wawancara dengan La Jornada sebagaimana dikutip Telegraph, Senin (30/8/2010).

Castro, yang telah menyerahkan kekuasaan kepada adiknya Raul, dirawat di sebuah tempat yang dirahasiakan dan menghilang dari pandangan publik. Sejak kemunculnya kembali bulan lalu, Castro tampak sehat meski kadang-kadang rapuh. Suaranya tampaknya mendapatkan kekuatan saat ia berbicara.

Dalam wawancara itu, Castro menjelaskan dirinya terbaring di kamar sebuah rumah sakit selama sakit, terhubung ke mesin-mesin, dan bertanya-tanya berapa lama itu akan terjadi sebelum penderitaannya berakhir. "Berbaring di tempat tidur itu, saya hanya bisa melihat apa yang ada di sekitar saya, mesin-mesin yang saya tidak mengerti," kata Castro. "Saya tidak tahu berapa lama siksaan ini akan terus berlanjut. Satu-satunya yang bisa diharapkan adalah bahwa dunia akan berhenti. "

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tapi saya sembuh," tambahnya, bangga.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.