Bakar Kantor Polisi, 4 Anti-India Tewas

Kompas.com - 02/08/2010, 02:44 WIB
Editoryuli

SRINAGAR, KOMPAS.com - Unjuk rasa anti-India disertai pembakaran di kantor polisi Kashmir menyulut serangkaian ledakan yang menewaskan empat demonstran dan melukai lebih dari 30 orang.

Pengunjuk rasa menyerang kantor polisi di Desa Khrew, sekitar 20 kilometer sebelah selatan Srinagar, ibukota musim panas Kashmir, Minggu (1/8/2010) yang membuat polisi di dalam kantor itu lari menyelamatkan diri.

Mereka kemudian membakar bangunan tersebut. Api merembet ke tempat bahan peledak dan menimbulkan serangkaian ledakan yang menghancurkan sebagian besar kantor polisi itu.

Menurut pejabat senior kepolisian kepada AFP melalui telepon, sedikitnya empat pengunjuk rasa tewas, dan sejumlah mayat lain mungkin terkubur di bawah reruntuhan.

Serangan terhadap kantor polisi itu dilakukan di tengah gelombang protes di berbagai penjuru Kashmir yang meletus ketika seorang remaja laki-laki yang berusia 17 tahun tewas setelah terkena tembakan gas air mata polisi pada 11 Juni.

Sebanyak 30 warga sipil tewas sejauh ini dalam bentrokan-bentrokan dengan pasukan keamanan, sebagian besar akibat tembakan polisi. Banyak dari mereka yang tewas itu adalah remaja. Demonstrasi anti-India meningkat tajam di Kashmir sejak kematian remaja itu pada 11 Juni.

Setiap kematian sejak 11 Juni menyulut kekerasan lebih lanjut meski telah ada seruan agar tenang dari Menteri Besar Kashmir, Omar Abdullah. Pemuda dan remaja seringkali termasuk di antara demonstran yang melemparkan batu ke arah pasukan keamanan selama pawai.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Separatis Kashmir mengadakan pawai secara rutin, yang seringkali berbuntut kekerasan, sejak 2008. Ketegangan di wilayah itu tinggi setelah polisi menuduh militer membunuh tiga warga sipil tidak berdosa pada April.

Militer semula menyatakan bahwa mereka membunuh tiga gerilyawan bersenjata namun kemudian memerintahkan penyelidikan dan mulai menindak dua perwira.

Kelompok Pengawas Hak Asasi Manusia mendesak India mengadili para prajurit yang dituduh membunuh tiga warga sipil dalam bentrokan rekayasa di wilayah Kashmir yang disengketakan.

Kekerasan di Kashmir turun setelah India dan Pakistan meluncurkan proses perdamaian yang bergerak lambat untuk menyelesaikan masa depan wilayah tersebut. Perbatasan de fakto memisahkan Kashmir antara India dan Pakistan, dua negara berkekuatan nuklir yang mengklaim secara keseluruhan wilayah itu.

Dua dari tiga perang antara kedua negara itu meletus karena masalah Kashmir, satu-satunya negara bagian yang mayoritas penduduknya muslim di India yang mayoritas Hindu.

Lebih dari 47.000 orang -warga sipil, militan dan aparat keamanan- tewas dalam pemberontakan muslim di Kashmir India sejak akhir 1980-an. Pejuang Kashmir menginginkan kemerdekaan wilayah itu dari India atau penggabungannya dengan Pakistan yang penduduknya beragama Islam.

New Delhi menuduh Islamabad membantu dan melatih pejuang Kashmir India. Pakistan membantah tuduhan itu namun mengakui memberikan dukungan moral dan diplomatik bagi perjuangan rakyat Kashmir untuk menentukan nasib mereka sendiri.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.