Babi Hong Kong Kedatangan Virus Flu Babi

Kompas.com - 18/06/2010, 09:11 WIB
EditorJosephus Primus

HONG KONG, KOMPAS.com - Virus flu babi H1N1 telah menyebar secara diam-diam pada babi di Hong Kong dan bertukar gen dengan virus lain.     Para peneliti mengatakan temuan itu mendukung seruan bagi pengawasan lebih ketat penyakit pada babi sebelum virus tersebut menyerang manusia dan obat baru dapat dihasilkan.     Temuan yang disiarkan di majalah Science, Jumat (18/6/2010), penting karena mendukung teori bahwa virus flu yang menyerang babi dapat bertukar gen dengan virus lain yang ada pada hewan tersebut, termasuk virus yang lebih berbahaya seperti virus flu unggas H5N1 atau H9N2.     Malik Peiris, ahli mengenai influenza yang mengerjakan studi itu, mengatakan temuan tersebut menggarisbawahi pentingnya pengawasan penyakit pada babi. "Itu memperlihatkan virus wabah dapat dengan mudah kembali ke babi. Segera setelah itu terjadi, virus tersebut dapat menyebar lagi bersama virus lain babi dan meningkatkan potensi konsekuensi yang tak terduga," kata Peiris, profesor mikrobiologi dari University of Hong Kong.     Peiris dan rekannya, termasuk Guan Yi di University of Hong Kong, telah menemukan virus wabah H1N1 pada kain penyeka hidung dari babi yang kelihatan sehat di rumah jagal Hong Kong selama pemeriksaan rutin sejak Oktober 2009. "Dari analisis genetika, apa yang ditunjukkan ialah masing-masing virus yang kami temukan pada babi tersebut berasal dari manusia," kata Peiris dalam satu wawacaran telepon dengan wartawan Reuters, Tan Ee Lyn.     "Tak mengejutkan karena virus wabah muncul dari babi, jadi tak mengejutkan bahwa virus itu kembali ke babi," katanya.

                          Bertukar gen     Satu sampel yang dipisahkan dari babi di Hong Kong pada Januari 2010 membawa gen dari tiga virus --wabah H1N1, H1N1 "seperti virus unggas" Eropa dan apa yang disebut virus "triple reassortant", yang berisi sedikit virus flu unggas, babi dan manusia yang pertama kali ditemukan di Amerika Utara pada 1998.      "Ini menunjukkan babi adalah tempat virus wabah mungkin sebenarnya berubah dan menyebar kembali serta memperoleh kandungan baru yang mungkin," kata Peiris.     "Virus wabah tersebut pada manusia telah sangat stabil. Virus tak berubah sama sekali, bahkan meskipun orang prihatin itu mungkin menyebar kembali dan bercampur dengan virus manusia ... tapi tampaknya virus itu dapat bercampur dengan virus flu lain (pada babi)," katanya.     Penelitian genetika telah menunjukkan H1N1, yang pertama kali diidentifikasi pada April 2009, dan pada kenyataannya telah beredar selama setidaknya satu dasawarsa dan barangkali pada babi. Kendati ada pemantauan ketat pada ternak untuk melindungi mereka dari manusia, sedikit pemeriksaan dilakukan secara global untuk melihat apakah makanan ternak terinfeksi dan jika iya, oleh virus apa.     Beragam studi dalam satu tahun belakangan telah menunjukkan babi di Kanada dan negara lain tertular virus wabah H1N1, yang terbukti dibawa ke hewan oleh manusia.     "Saya harus menekankan poin ini bahwa itu sama sekali tak berarti babi berbahaya untuk dimakan (jika dimasak dengan baik). Maksudnya ialah penting untuk melakukan pengawasan sistematis pada babi sehingga kita mengetahui apa yang terjadi pada babi sehubungan dengan virus influenza pada umumnya dan virus wabah pada khususnya," kata Peiris.     Babi adalah waduk bagi banyak virus manusia, unggas dan babi dan para ahli seringkali merujuk hewan itu sebagai wadah pencampur yang ideal bagi patogen baru yang mungkin lebih berbahaya.     Ketika ditanya apakah ada kemungkinan H1N1 bercampur dengan H5N1, Peiris menjawab, "Itu tentu saja satu kemungkinan, itu sebabnya mengapa kita perlu mengikuti perkembangannya."     "Jika virus itu sangat mungkin untuk siap menyebar dan mengambil gen dari virus babi, kita mungkin akan menghadapi kombinasi gen baru yang dapat meningkat. Jika kita tak siap menghadapi itu, kita mungkin dapat menghadapi virus yang lebih mematikan, yang kembali menyerang manusia," katanya.     Meskipun H5N1 adalah virus yang kebanyakan berasal dari unggas, virus tersebut mengakibatkan sakit yang lebih parah pada manusia dibandingkan dengan flu musiman dan menewaskan 60 persen orang yang diserangnya. Virus itu telah menyerang 499 orang dan menewaskan 295 di antara mereka sejak virus tersebut muncul pada 2003.     Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) awal Juni menyatakan wabah H1N1 belum usai, kendati kegiatannya yang paling kuat telah berlalu di banyak wilayah di dunia.



25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X