Musharraf Tak Cegah Kematian Benazir Bhutto

Kompas.com - 17/04/2010, 04:00 WIB
Editor

Kairo, Kompas - Laporan komite penyidik PBB yang dirilis pada Kamis (15/4) di New York menuduh dinas intelijen dan pejabat pemerintah Pakistan menghambat proses penyidikan atas pembunuhan almarhum mantan PM Pakistan Benazir Bhutto.

Mantan PM Pakistan tersebut tewas saat berkampanye di kota Rawalpindi pada 27 Desember 2007, beberapa pekan setelah kembali dari pengasingan.

Komite penyidik PBB dipimpin Dubes Cile untuk PBB Heraldo Munoz. Dikatakan, Pemerintah Pakistan gagal melakukan penyidikan atas pembunuhan Bhutto akibat kesengajaan. Komite mengalami kesulitan akibat upaya Pemerintah Pakistan tingkat tinggi yang menghambat akses bagi komite itu, terutama ke sumber-sumber di institusi militer dan intelijen.

Komite dibentuk pada Juli 2009 atas permintaan Pemerintah Pakistan saat ini, di bawah kepemimpinan Presiden Asif Ali Zardari, suami Bhutto.

Menurut laporan komite itu, Pemerintah Pakistan seharusnya bisa mencegah pembunuhan Bhutto itu jika pengamanan diberikan semestinya. Komite juga menuduh Pemerintah Pakistan mencoba mengaburkan arah penyidikan.

Mantan Presiden Pakistan Pervez Musharraf, yang berkuasa saat itu, dianggap tergesa-gesa menggelar konferensi pers dan menuduh Pemimpin Taliban Pakistan Beitullah Mesud bertanggung jawab atas kematian Bhutto.

Pengebom tak sendirian

Komite menuduh otoritas Pakistan terlalu cepat membersihkan tempat peristiwa sehingga menyulitkan pencarian bukti-bukti di lapangan. Pervez Musharraf, demikian laporan itu, mengetahui banyaknya ancaman terhadap Bhutto, tetapi tidak melakukan langkah preventif.

Komite yakin pemuda berusia 15 tahun, yang meledakkan bom di badannya di dekat kendaraan Bhutto, tidak bekerja sendirian.

Sekjen PBB Ban Ki-moon meminta otoritas Pakistan terus melakukan penyidikan dan menerima apa pun hasilnya.

Di Islamabad, juru bicara presiden Pakistan, Farhatullah Babar, mengatakan, pemerintah akan merespons laporan komite PBB itu setelah mempelajarinya. ”Kami sedang membaca laporan itu dan sebuah detail reaksi akan disampaikan.” (MTH)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.