ElBaradei "Lengser", Amano Dirjen Baru

Kompas.com - 30/11/2009, 03:24 WIB
Editor

Kursi Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional beralih dari ElBaradei ke diplomat asal Jepang, Yukiya Amano. Di tangan Amano, IAEA dikhawatirkan akan semakin prokepentingan negara-negara adidaya Barat.

Masa jabatan ElBaradei (67) resmi berakhir pada hari Senin (30/11), tetapi diplomat asal Mesir yang telah memimpin Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) selama 12 tahun itu telah mengakhiri kerjanya pada hari Jumat (27/11).

Di mata Barat, sosok yang mendapat berbagai kritik tajam dari George W Bush, ketika dia menjabat sebagai presiden AS, itu dinilai sebagai figur yang masih tak mampu menuntaskan masalah nuklir Iran. Dia dianggap terlalu lembut terhadap Iran. Akan tetapi, di mata banyak kelompok masyarakat dunia lainnya, ElBaradei adalah sosok yang jujur, obyektif, dan telah membawa IAEA ke tempat yang lebih terhormat dari sebelumnya. Penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 2005 kepadanya adalah bukti bahwa kiprah ElBaradei tidaklah seburuk anggapan beberapa tokoh Barat.

ElBaradei, yang naik ke tampuk tertinggi IAEA berkat dukungan Pemerintah AS, dalam perjalanannya tidak takut untuk bertentangan dengan kepentingan AS. Pada tahun 2003, menjelang rencana invasi AS ke Irak, Dirjen IAEA itu dengan lantang membantah semua alasan AS. Pemerintahan Bush ketika itu mengatakan, Saddam Hussein menolak menghentikan program senjata nuklirnya. Mereka menuduh Irak berusaha membeli tabung aluminium berkekuatan tinggi untuk mesin sentrifugal dan 500 ton uranium oksida dari Niger, yang bisa digunakan untuk membuat sebuah senjata nuklir. ElBaradei mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB, tabung itu tidak cocok untuk sentrifugal, semua dokumen terkait penjualan dari Niger juga palsu dan IAEA tidak melihat berlanjutnya aktivitas nuklir Irak. Pertentangannya dengan AS itu, kemudian membuat AS berusaha keras menjegal terpilihnya kembali ElBaradei pada tahun 2005, tetapi usahanya gagal.

Dalam masalah nuklir Iran, Dirjen IAEA itu pun berusaha obyektif, dengan mengatakan belum menemukan bukti pengalihan untuk tujuan militer dari program nuklir Iran.

Suara seorang Dirjen IAEA jelas tidak bisa diabaikan jika dikaitkan dengan suatu masalah nuklir. Kini, kursi juru bicara IAEA berada di tangan seorang diplomat Jepang, negara yang bersekutu dekat dengan AS. Yukiya Amano bukan orang baru di bidang perlucutan sendiri dan nonproliferasi nuklir. Dia telah beberapa tahun berkiprah di IAEA, bahkan pernah terpilih sebagai ketua Dewan Gubernur IAEA (2005-2006). Beberapa pengamat menilai, di tangan Amano suara IAEA terhadap Iran akan lebih keras karena Amano tidak punya ”keterkaitan” dari sisi agama maupun kesukuan dengan Iran. Pandangan Amano mengenai masalah nuklir Iran selama ini memang cukup dekat dengan pandangan-pandangan AS. (AFP/Reuters/OKI)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.