Keluarga Ampatuan Dicekal

Kompas.com - 28/11/2009, 08:37 WIB
Editortof

AMPATUAN, KOMPAS.com — Politisi sekaligus Wali Kota Datu Unsay Andal Ampatuan Junior, Jumat (27/11), didakwa melakukan pembunuhan massal. Andal Ampatuan Senior, Gubernur Provinsi Maguindanao, yang juga ayah Andal Jr, bersama delapan anggota keluarga Ampatuan juga disidik dan dicekal pemerintah, terkait pembunuhan keluarga besar Mangudadatu, pengacara, dan wartawan.

Ampatuan Jr (40), yang menyerahkan diri pada Kamis (26/11), berkelit terlibat pembunuhan terhadap klan Mangudadatu, rival politik keluarga Ampatuan. Klan Ampatuan tak ingin klan Mangudadatu mencalonkan diri sebagai gubernur di Filipina selatan, yang sejak tahun 2001 dikuasai keluarga Ampatuan.

Ampatuan Jr menuduh kelompok Front Pembebasan Islam Moro (MILF) sebagai pelakunya. Akan tetapi, hal itu dibantah juru bicara MILF dan pemerintah. ”Dialah yang memberikan perintah. Dia juga berada di antara mereka yang membunuh para korban,” ucap Menteri Kehakiman Agnes Devanadera.

Devanedera menambahkan, delapan anggota keluarga Ampatuan, termasuk Gubernur Maguindanao, ikut disidik dan tidak diizinkan keluar dari Filipina.

Devanadera mengungkapkan, saksi-saksi mata mengatakan kepada jaksa bahwa Ampatuan Jr memerintahkan milisi pribadinya yang terdiri dari 100 lebih orang bersenjata untuk menembak rombongan keluarga Mangudadatu di kawasan peternakan terpencil di Provinsi Maguindanao, Senin (23/11).

”Sangat mengerikan. Saya tidak bisa menggambarkannya,” kata Menteri Kehakiman itu kepada jaringan televisi GMA, sambil menambahkan bahwa dia telah melihat mayat-mayat dan kesaksian, banyak dari mereka yang terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Devanadera juga menyebutkan, banyak yang terlibat dalam pembunuhan menyampaikan bahwa Ampatuan Jr berada di lokasi kejadian dan memerintahkan mereka menembak.

”Bahkan dia sendiri pun menembak beberapa orang. Mereka memberikan kesaksian karena rasa bersalah yang mereka rasakan. Mereka terusik hati nuraninya sendiri,” kata Devanadera.

Sebanyak 57 orang tewas akibat pembantaian milisi Ampatuan tersebut, 27 di antaranya wartawan, serta 15 pengemudi motor dan mobil yang kebetulan lewat di lokasi peristiwa.

Kematian tak menghambat

Meski istri dan sanak keluarganya menjadi korban pembantaian, Ismael Mangudadatu, Jumat, tetap mencalonkan diri sebagai gubernur. ”Hanya kematian yang bisa menghentikan saya,” ujar Ismael, yang dikawal seorang jenderal senior Angkatan Darat.

Seorang komandan polisi dan beberapa tentara mengawal untuk menyampaikan dokumen pencalonannya kepada Komisi Pemilihan Umum di ibu kota Provinsi Maguindanao, Sharrif Aguak.

Sepanjang perjalanan menuju ibu kota Maguindanao, sejumlah warga menyambutnya dengan melambaikan tangan, mengacungkan jempol, bahkan ada juga yang mengacungkan tinju untuk mendukungnya. ”Ini simbol kebebasan kami. Saya harap ini awal kebebasan kami,” kata Ismael Mangudadatu, yang diikuti sekitar 100 pendukung.

Ismael merupakan Wakil Wali Kota Buluan, mengambil langkah di luar perkiraan ketika memutuskan bersaing pada pemilu Mei 2010. Dia mengirimkan istri dan saudaranya memasukkan dokumen pencalonan karena telah mendapat ancaman pembunuhan. (AP/AFP/Reuters/OKI)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X