Korban Badai Ketsana: Kami Harus Mulai dari Nol

Kompas.com - 27/09/2009, 15:15 WIB
Editor

MANILA, KOMPAS.com — Para petugas pencari dan penyelamat Filipina saat ini tengah mengaduk-aduk lumpur dan mengangkati korban yang tertimbun banjir dan lumpur menyusul amukan badai Ketsana, Sabtu kemarin. Para pencari kemudian mengangkati korban dan menempatkannya di bubungan atap atau di tempat-tempat yang tinggi.

Sejauh ini dilaporkan 52 orang tewas dan 23 orang dinyatakan hilang akibat badai yang disertai hujan lebat selama 12 jam itu.

Pemerintah telah mengumumkan kondisi darurat bencana di Metro Manila dan 25 provinsi lain yaang dilanda badai Ketsana. Sejauh ini sudah 5.100 orang diselamatkan oleh para relawan, tentara, dan polisi.

Panglima Angkatan Bersenjata Manila Jenderal Victor Ibrado siang tadi terbang di atas kawasan suburban Manila untuk menyaksikan kerja para pencari. Kepada wartawan, Ibrado menyatakan masih melihat ribuan korban masih mencoba bertahan di bubungan-bubungan atap, atau di atap bus. Beberapa di antaranya bahkan terancam bahaya karena sangat dekat dengan aliran listrik tegangan tinggi.

Badai Ketsana diperkirakan melanda lebih dari 300.000 penduduk di sejumlah kota, 47.000 di antaranya mengungsi ke tempat-tempat aman, seperti sekolah, gereja, dan tempat penampungan.

Di Kota Marikina, dekat Manila, tim pencari harus sangat berhati-hati mengangkat seorang bocah yang tertimbun lumpur dalam sebuah perahu. Dua korban lain ditemukan di dekat perahu.

Sejumlah penduduk yang harus kehilangan harta benda mengaku masih bersyukur bisa bertahan hidup meski harus memulai semuanya dari nol lagi. "Kami harus kembali dari nol," kata Ronald Manlangit, salah satu korban. Ia juga beruntung karena masih bisa menyelamatkan semua anaknya ke lantai dua ketika banjir datang.

Akibat badai disertai hujan lebat, tanah longsor, dan banjir lumpur itu, suasana banyak kota sangat mengenaskan. Lumpur merendam segalanya: mobil, jalanan, dan sayuran di pasar-pasar tradisional dekat permukiman Manlangit.

Gubernur Bulacan, Joselito Mendoza, yang terletak di sebelah utara Manila menyatakan, "Sangat tragis. Orang tenggelam di rumahnya sendiri."

Berbagai surat elektronik, siaran radio, dan televisi menggambarkan betapa tragisnya bencana ini. "Anak saya sedang sakit sendirian. Dia tak lagi punya makanan dan mungkin sekarang sedang menunggu bantuan di atap rumahnya. Please kirimkan bantuan ke sana," kata seorang ibu rumah tangga, Mary Coloma, kepada Radio DZBB.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.