Cerita Wang Yan dan Haji Ma Ibrahim

Kompas.com - 12/07/2009, 06:21 WIB
Editor

Nama Islam pun berubah-ubah. Pernah dinamai sebagai Agama Arab (Dashi Jiao atau Tianfang Jiao) pada masa Dinasti Ming (1368-1644). Juga pernah disebut Hui Hui Jiao, atau agamanya orang Hui Hui.

Pernah disebut sebagai ”agama sejati” pada masa Dinasti Qing (1616-1911) sebagai Qingzhen Jiao, dan pada masa ”Republik Pertama” (1912-1949) kembali disebut sebagai ”agamanya etnis Hui” atau Hui Jiao.

Namun, sejak 1956 atau sepuluh tahun sebelum Revolusi Kebudayaan yang dipimpin Chairman Mao, melalui sebuah keputusan Dewan Negara tahun 1956, Dashi Jiao, Tianfang Jiao, atau Hui Jiao ini di China resmi disebut sebagai agama Islam.

Sampai saat ini, di antara total sekitar 56 kelompok etnis besar di China, ada 10 etnis di antaranya yang dikenal sebagai pemeluk agama Islam. Mereka adalah etnis Huis, Uighur (yang kini terlibat pergolakan berdarah dengan kaum keturunan Han di Provinsi Xinjiang di China barat), Kazak, Dongxiang, Khalkha, Salas, Tajik, Uzbek, Bao’an, dan kelompok etnis minoritas Tartar.

Selain tetap dilestarikan oleh Pemerintah China, etnis-etnis minoritas ini juga diberi privilese yang tak dimiliki etnis mayoritas lainnya, yakni tak diwajibkan mengikuti peraturan one child policy (hanya boleh satu anak di keluarga) yang diberlakukan di seluruh China sejak 1979, kecuali di daerah otonomi khusus Hongkong dan Makau.

Selain warga dua daerah khusus itu dan juga warga etnis minoritas seperti halnya kelompok minoritas etnis Islam tadi, warga China hanya boleh beranak satu. Kalau beranak lebih dari satu, mereka akan kena berbagai sanksi—di antaranya denda senilai ribuan yuan (jutaan rupiah)dan akan mendapat berbagai kesulitan lain.

Kekecualian lain, bagi anak yang kedua orangtuanya adalah anak tunggal, mereka boleh beranak dua. Atau, jika kawin dengan anak yang orangtuanya anak tunggal pula, pasangan ini boleh beranak dua.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jumlah penduduk China yang 1,3 miliar inilah menjadi alasan utamanya kenapa satu keluarga China harus hanya punya anak satu. Demi keluarga berencana.

Ideologi? Mereka akan geleng kepala kalau ditanya, ”Ideologimu apa.” Komunis? Mereka akan bilang, dengan segala penampilan modern mereka, ”Apakah aku tampak seperti komunis?”

Stabilitas adalah ”ideologi” negara yang harus mereka junjung, tak hanya dengan sekadar kata-kata. Maka, jika ada yang dinilai ”merongrong stabilitas”, melakukan aksi kerusuhan yang menggoyang ketenteraman, seperti terjadi di Urumqi: pertarungan etnis antara minoritas Uighur dan mayoritas Han, serta makan korban 184 jiwa?

Hanya ada satu kata yang diluncurkan aparat negara, libas perusuh, apa pun alasannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.