Diduga Satu Tewas dalam Unjuk Rasa di Teheran

Kompas.com - 16/06/2009, 06:14 WIB
Editor

TEHERAN, KOMPAS.com — Seorang pemrotes dilaporkan tewas ditembak oleh polisi di Teheran, Senin (15/6), ketika massa dalam jumlah besar membangkang larangan berpawai untuk menentang pemilihan kembali Mahmoud Ahmadinejad, yang berhaluan keras, sebagai presiden.
      
Seorang wartawan foto setempat mengatakan, pemrotes itu tewas dalam bentrokan dengan polisi di sebuah lapangan di Teheran. Tembakan-tembakan terdengar, sementara asap hitam tebal membubung ke angkasa, dan kerumunan orang terlihat meninggalkan daerah itu.
      
Kekerasan meletus setelah saingan Ahmadinejad yang kalah, Mir Hossein Mousavi, muncul di depan umum untuk pertama kalinya sejak pemilihan itu, yang telah memecah belah penduduk dan menyulut gelombang protes dan kerusuhan.
      
Iran, yang sedang berusaha mengatasi salah satu krisis terburuk sejak revolusi Islam tiga dekade lalu, menghadapi kecaman internasional atas keabsahan pemilu itu dan penindasan protes oposisi yang terjadi sesudahnya. "Insya Allah, kami akan merebut kembali hak-hak kami," teriak Mousavi dari atap sebuah mobil di tengah lautan massa Iran, muda dan tua, yang memadati Teheran pusat meski pihak berwenang memerintahkan larangan terhadap pawai.
      
Gedung Putih telah mengungkapkan keprihatinan atas pemilu Iran itu, sementara Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menyatakan bahwa kehendak rakyat Iran harus "dihormati sepenuhnya".
      
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memerintahkan penyelidikan atas tuduhan-tuduhan kecurangan pemilu setelah Ahmadinejad mencapai kekusaan lagi dengan kemenangan besar dalam pemungutan suara itu, yang membuyarkan harapan Barat mengenai perubahan dalam kebijakan domestik dan luar negeri di negara yang kaya minyak itu.
      
Televisi pemerintah mengatakan bahwa Khamenei, pemimpin spritual sangat berkuasa di republik Islam itu, memberi tahu Mousavi bahwa ia telah memerintahkan badan pengawas Dewan Wali "untuk memeriksa secara cermat" keluhan-keluhannya.
      
Mousavi (67) menyampaikan permohonan resmi Minggu bagi pembatalan hasil pemilu yang disebutnya curang dan telah menyulut kerusuhan terburuk di negara muslim Syiah itu dalam satu dasawarsa.
      
Demonstran, beberapa di antaranya, memakai kain warna hijau ciri kampanye Mousavi, memadati Teheran pusat, sementara polisi antihuru-hara mengawasi mereka. Seorang polisi mengatakan, antara 1,5 juta dan dua juta orang mengambil bagian dalam aksi tersebut.
      
Jika kematian itu dikonfirmasi, pemrotes itu merupakan korban tewas pertama sejak pemilu tersebut.
      
Mantan presiden reformis, Mohammad Khatami, pendukung utama Mousavi yang digantikan oleh Ahmadinejad pada 2005, juga ingin hasil pemilihan tersebut dibatalkan dan pemilu baru diadakan. Hal itu dikatakan saudaranya.
      
Seorang juru bicara Dewan Wali yang beranggotakan 12 orang mengatakan, mereka akan mengumumkan keputusan dalam waktu 10 hari.

 



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.