Semakin Banyak Penari Telanjang di AS

Kompas.com - 23/03/2009, 16:02 WIB
Editor

KOMPAS.com — Sebagai seorang bartender dan pelatih di jaringan restoran nasional, Rebecca Brown meraih ribuan dollar dalam 1 pekan. Namun, sebagai penari telanjang di klub Pink Monkey, Chicago, Rebecca Brown dengan mudah mendapatkan penghasilan itu hanya dalam semalam.

Persaingan bursa kerja yang makin ketat di tengah krisis telah bermuara pada peningkatan jumlah perempuan di AS yang memilih menjadi penari telanjang di sejumlah klub, tampil di film porno atau berpose bagi majalah khusus kalangan dewasa seperti Hustler. Sejumlah majikan dari industri hiburan mengakui terdapat kenaikan aplikasi dari wanita yang terpikat menjadi penari telanjang karena iming-iming jadwal kerja fleksibel dan janji pendapatan besar dengan cepat.

Juru bicara klub Rick's Caberet, Allan Prialux, menerangkan, sebanyak 20 hingga 30 wanita mengajukan lamaran kerja di klub yang terletak di New York itu dalam seminggunya. Ini berarti terdapat peningkatan hingga 2 kali lipat dibandingkan setahun lalu.

Sementara jumlah perempuan yang menjadi aktris di perusahaan film porno terkemuka, Vivid Entertainment, telah mencapai sekitar 800 atau meningkat 2 kali lipat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. "Industri ini bahkan  menjadi lebih kompetitif dibandingkan apa yang saya perhatikan 25 tahun lalu," demikian diakui Steven Hirsch, salah ketua Vivid Entertainment Group.

Sebagian besar penari telanjang di AS saat ini menyandang gelar sarjana dan pengalaman kerja dengan keahlian khusus sebelum krisis menerjang AS. "Anda saat ini bisa menyaksikan lebih banyak wanita cantik dengan keahlian lebih banyak lagi," kata Gus Poulos, General Manager Klub Sin City, New York City. Gus Paulos mengaku mendapatkan 85 respons di dalam satu hari terhadap lowongan yang ditawarkannya secara online melalui Craigslist.

Suka duka penari telanjang

Seperti diakui oleh mereka yang belum pernah terjun ke dunia ini, transisi kerja ke klub malam sebagai penari telanjang memang bukanlah hal mudah. Kesulitan itu bervariasi mulai dari belajar menari dengan sepatu berhak 5 inci hingga berhadapan dengan pelanggan pria yang terpukau dengan apa yang mereka saksikan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Beberapa penari mengaku semula cemas sebelum berhasil mengatasi masalah ini dengan meneguk alkohol. "Seperti mau menyampaikan pidato di depan banyak orang saat membayangkan setiap orang telanjang dan kamu menjadi salah satu dari mereka," kata Brown (29).  Sementara penari lain di Pink Monkey, Eva Stone (25), mengaku harus "bermuka tebal" menghadapi pelecehan verbal dari pelanggannya.

Beberapa penari di Pink Monkey mengaku pekerjaan yang mereka geluti di klub telanjang ini bukan merupakan pilihan karier utama. Namun, mereka mengaku telah mempertimbangkan keputusannya secara matang untuk menjejakkan kaki di bisnis itu.

Penari telanjang dinilai sebagai pekerjaan yang menjanjikan lebih banyak keleluasaan dibandingkan duduk di belakang meja dengan desain kantor yang tersekat-sekat. "Mudah, menyenangkan, dan kami saling peduli antara satu dengan lainnya," kata Brown.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.